Pengorbanan

Seseorang disebut pahlawan karena timbangan kebaikannya jauh mengalahkan timbangan keburukannya, karena kekuatannya mengalahkan sisi kelemahannya. Jika engkau mencoba menghitung kesalahan dan kelebihannya, niscaya engkau menemui kesalahan dan kelemahannya itu "tertelan" tertelan oleh kebaikan dan kekuatnnya.

Akan tetapi, kebaikan dan kekuatan itu bukanlah untuk dirinya sendiri, melainkan merupakan rangkaian amal yang menjadi jasanya bagi kehidupan masyarakat manusia. Itulah sebabnya tidak semua orang baik dan kuat menjadi pahlawan yang dikenang dalam ingatan kolektif masyarakat atau apa yang kita sebut sejarah. Hanya apabila kebaikan dan kekuatan menjelma jadi matahari yang menerangi kehidupan, atau purnama yang merubah malam jadi indah, atau mata air yang menghilangkan dahaga.

Nilai sosial setiap kita terletak pada apa yang kita berikan kepada masyarakat, atau pada kadar manfaat yang dirasakan masyarakat dari keseluruhan performance kepribadian kita. Maka, Rasulullah saw berkata, "Sebak-baik manusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain."

Demikianlah, kita menobatkan seseorang menjadi pahlawan karena ada begitu banyak hal yang telah ia berikan kepada masyarakat. Maka, takdir seorang pahlawan adalah bahwa ia tidak pernah hidup dan berpikir dalam lingkup dirinya sendiri. Ia telah melampaui batas-batas kebutuhan psikologis dan biologisnya. Batas-batas kebutuhan itu bahkan telah hilang dan lebur dalam batas kebutuhan kolektif masyarakatnya dimana segenap pikiran dan jiwanya tercurahkan.

Dalam makna inilah pengorbanan menemukan dirinya sebagai kata kunci kepahlawanan seseorang. Di sini ia betemu dengan pertanggungjawaban, keberanian, dan kesabaran. Tiga hal terakhir ini adalah wadah-wadah kepribadian yang hanya akan menemukan makna dan fungsi kepahlawanannya apabila ada pengorbanan yang mengisi dan menggerakkannya. Pengorbananlah yang memberi arti dan fungsi kepahlawanan bagi sifat-sifat pertanggungjawaban, keberanian dan kesabaran.

Maka, keempat makna dan sifat ini: rasa tanggungjawab keagamaan, semangat pengorbanan, keberanian jiwa, dan kesabaran, adalah rangkaian dasar yang seluruhnya terkandung dalam ayat-ayat jihad. Dorongannya adalah tanggung jawab keagamaan (semacam semangat penyebaran dan pembelaan). Hakikat dan tabiatnya adalah pengorbanan. Perisainya keberanian jiwa. Namun, nafas panjangnya adalah kesabaran.

Maka, benarlah apa yang dikatakan Sayyid Qutb, "Orang yang hidup bagi dirinya sendiri akan hidup sebagai orang kerdil dan mati sebagai orang kerdil. Akan tetapi, orang yang hidup bagi orang lain akan hidup sebagai orang besar dan mati sebagai orang besar."

Kaidah itu tidak saja berlaku bagi kehidupan individu, tetapi juga merupakan kaidah universal yang berlaku bagi komunitas manusia. Syaikh Arselan, pemikir Muslim asal Syiria, yang menulis buku Mengapa Kaum Muslimin Mundur dan Orang Barat Maju menjelaskan jawabannya dalam kalimat yang sederhana, "karena," kata Syaikh Arselan. "orang-orang barat lebih banyak berkorban daripada kaum Muslimin. Mereka memberi lebih banyak demi agama mereka ketimbang apa yang diberikan kaum Muslimin bagi agamanya".

Sekarang, mengertilah kita. Dan ketika ada pertanyaan, "Apakah yang dibutuhkan untuk menegakkan agama ini dalam realitas kehidupan?" Maka jawabnya adalah hadirnya para pahlawan sejati yang tidak lagi hidup bagi dirinya sendiri, tetapi hidup bagi orang lain dan agamanya, serta mau mengorbankan semua yang ia miliki bagi agamanya.

Anis Matta

1/09/2012 | Posted in , , | Read More »

Kemenangan Dakwah Tak Ditakar dari Hasil

Oleh: Abu Maryam. al-intima.com

” الأجر يقع بمجرد الدعوة ولا يتوقف على الاستجابة “
“Pahala didapat karena melaksanakan dakwah, bukan tergantung kepada penerimaannya”
Kaidah ini meluruskan pemahaman yang sering disalahartikan oleh banyak orang, bahwa pahala haruslah berbanding lurus dengan hasil yang didapat secara zahir, sehingga penilaiannya dapat dihitung secara matematis seperti umumnya pekerjaan duniawi. Apabila cara pandang seperti ini yang dijadikan acuan, maka para nabi bisa dikatagorikan gagal dalam mengembankan amanah dakwah, karena dakwah mereka hanya menghasilkan pengikut yang jumlahnya sedikit.
Kita bisa mengambil contoh kisah Nuh As. yang mendakwahi kaumnya siang dan malam hingga memakan waktu beratus-ratus tahun lamanya. Allah Swt. berfirman dalam Al Quran: “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim.” (QS. Al Ankabut: 14)
Inti dari ayat ini sebagaimana yang termaktub dalam tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa nabi Nuh As. mendakwahi kaumnya untuk beriman kepada Allah Swt. selama seribu kurang lima puluh tahun (950 tahun) lamanya, dan dalam kurun waktu itu, nabi Nuh As. hanya mendapatkan sedikit sekali pengikut, dan itu termaktub di dalam Al Quran:
“Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur telah memancarkan air, Kami berfirman: ‘Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman.’ dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.” (QS. Huud: 40)
Perhatikan akhir dari ayat di atas secara seksama, bagaimana Allah menjelaskan, “dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit” (QS. Huud: 40), kalau kemudian takaran kesuksesan dakwah diukur dari kuantitas hasil, maka pastilah Nabi Nuh telah gagal mengemban misinya, namun pada hakekatnya tidaklah demikian, karena para Nabi dan Rasul merupakan hamba pilihan yang mendapatkan tempat mulia di sisi Allah Swt.
Jumlah pengikut yang sedikit juga didapat oleh para nabi lainnya. Ketika pada hari kiamat nanti, para Nabi dan Rasul dikumpulkan dan mereka datang dengan umatnya masing-masing, dari mereka ada yang membawa satu, dua, tiga, bahkan ada yang sama sekali tidak membawa pengikut seorangpun.
Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadis. Imam Tirmidzi mentakhrij dari jalur Ibnu Abbas Semoga Allah meridhoi keduanya seraya berkata : “Tatkala Nabi diisra’kan Nabi melewati beberapa Nabi yang bersama mereka pengikut yang banyak, beberapa Nabi lainnya sedikit jumlah pengikutnya dan beberapa nabi lagi tidak mempunyai satu orang pengikutpun.”
Oleh karena itulah Allah Swt. kemudian mengarahkan kepada Rasulullah Saw. agar setelah berdakwah secara optimal, janganlah sekali-kali menakar kesuksesannya melalui jumlah yang didapat. Allah Swt. sendiri telah berfirman: “Jika mereka berpaling maka Kami tidak mengutus kamu sebagai pengawas bagi mereka. Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah).” (QS.Asyu’araa’ :48)
Dan dalam ayat lainnya, “Maka tidak ada kewajiban atas para rasul, selain dari menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” (QS. An nahl :35)
Dan dalam ayat: “Dan tidak lain kewajiban Rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” (An nur: 54)
Adapun terkait dengan hal hidayah, sesungguhnya itu semua adalah urusan Allah untuk memberikannya.
“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al Qashash: 56)
Oleh karenanya, barang siapa yang memahami kaidah ini secara baik, maka ia akan berdakwah tanpa beban, tidak merasa kecewa ataupun stress hanya dikarenakan dakwah yang siang malam ia lakukan berakhir dengan penolakan dan jumlah pengikut yang sedikit.
Allah Swt. melalui firman-firman-Nya kerap menghibur Rasulullah Saw. dalam hal ini, karena tidaklah Allah memberi sebuah tanggungjawab, melainkan sesuai dengan kadar kemampuan yang telah Allah berikan kepada beliau. Allah Swt. berfirman:
“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya” (QS. Al Baqarah: 272)
“Maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka.” (QS. Faathir: 8)
“Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.” (QS. An Nahl : 127)
Ayat-ayat di atas menjadi hiburan tersendiri bagi Rasulullah Saw., menghilangkan kesedihannya selama ini, dikarenakan kesungguhan beliau dalam berdakwah untuk menuntun kaumnya beriman kepada Allah ditanggapi dengan sikap “buta dan tuli.”
Para da’i pada hakekatnya adalah mereka yang memiliki hati-hati yang lembut, penuh cinta, perasa sehingga itu semua menjadi tenaga bagi mereka dalam menunaikan dakwah. Ia merasa sedih ketika melihat hamba Allah yang lebih memilih berada dalam kesesatannya, mengabaikan ajakan kebaikan yang selama ini ia serukan. Kesedihan seperti ini pulalah yang dirasakan oleh Rasulullah Saw. ketika melihat kaumnya, maka Allah Swt. kemudian berfirman:
“Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, Sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Quran).” (QS. Al Kahfi: 6)
Dengan kata lain, ayat ini menanyakan kepada nabi Muhammad Saw., apakah dengan kehancuran kaum yang tidak mau diajak beriman itu, telah membuatnya menjadi putus asa dan merasa kasihan karena pengingkaran mereka terhadap Al Quran?
Imam Qatadah, sebagaimana yang termaktub dalam Kitab Tafsir Ibn Katsir menjelaskan ayat ini: “Seolah-olah engkau ingin bunuh diri sebagai ekspresi kemarahan dan kesedihan terhadap perilaku mereka.” Sedangkan Mujahid mengatakan, sebuah kegelisahan, dan artinya tak jauh beda yakni jangan bersedih atas mereka, namun teruslah sampaikan risalah Allah ini, barang siapa yang mendapatkan hidayah maka itu untuk dirinya, dan barang siapa yang sesat sesungguhnya ia telah menyesatkan dirinya sendiri.
Dengan demikian, sesungguhnya Allah pun telah mencabut dosa bagi para da'i apabila orang yang mereka dakwahi tidak mendapat petunjuk dan merespon dakwah yang mereka lakukan, tentunya setelah mereka berusaha dengan penuh optimal, hal itu dikarenakan Allah tidak akan memberikan beban kepada seorang hamba melainkan sesuai dengan batas kemampuan yang telah Ia berikan.
Kaidah ini juga menjadi obat bagi mereka yang tergesa-gesa memetik hasil dari dakwah yang selama ini mereka kerjakan. Yaitu mereka yang menunggu hasil yang nampak secara kasat mata duniawi, dan kemudian menjadikannya syarat dan takaran pilihan, antara melanjutkan perjuangan di jalan dakwah ini atau tidak. Cara pandang seperti ini sebenarnya cara pandang yang salah, sehingga bertolak belakang dengan kaidah dakwah yang diajarkan dalam Al Quran dan As Sunnah.
Al Quran telah menekankan, bahwa tidak ada kemestian seiringnya antara dakwah yang dijalankan dengan respon yang di dapat (Istijabah). Seorang dai, bisa saja telah berjuang mati-matian hingga titik darah penghabisan dalam berdakwah, namun sang mad'u tetap pula dengan sikap kerasnya, menolak segala bentuk ajakan kebaikan kepada dirinya. Namun demikian, pada fase seperti inilah sebenarnya akhir dari segalanya itu ditentukan. Tahapan-tahapannya dijelaskan oleh Allah Swt dalam firman-Nya:
“Sehingga apabila para Rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan mereka) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada para Rasul itu pertolongan Kami, lalu diselamatkan orang-orang yang Kami kehendaki. dan tidak dapat ditolak siksa Kami dari pada orang-orang yang berdosa.” (QS. Yusuf: 110)
Fase pertama adalah pada masa dakwah itu dirasa tidak mempunyai harapan lagi untuk mengarahkan mereka kepada keimanan, sehingga mereka merasa telah didustai, maka berakhirlah fase dakwah yang kemudian ditutup dengan pertolongan dari Allah Swt. Ibnu Katsir dalam tafsirnya kemudian menjelaskan, bahwa pertolongan dari Allah akan diturunkan kepada para Rasul-Nya ketika mereka berada dalam kondisi genting dan dalam masa pengharapan akan hadirnya kemenangan, dan itu terjadi di masa yang sangat kritis. Sebagaimana diterangkan oleh Allah Swt dalam firman-Nya:
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS. Al-Baqarah : 214)
Wallahu a’lam bishowab

1/07/2012 | Posted in , , | Read More »

Temu Jiwa Sentuh Fisik

anismatta.com-Shalatnya panjang dan khusuk. Keluh dan resah mengalir dalam doa-doa. Hasrat dan rindu merangkak bersama malam yang kian kelam. Usai shalat perempuan itu akhirnya rebah di pembaringan. Cemasnya belum lunas. Lama sudah suaminya pergi. Untuk jihad, memang. Tapi cinta tetaplah cinta. Walaupun jihad, perpisahan selalu membakar jiwa dengan rindu. Maka ia pun rebah dengan doa-doa; “Ya Allah, yang memperjalankan unta-unta, menurunkan kitab-kitab, memberi para pemohon, aku memohon pada-Mu agar Engkau mengembalikan suamiku yang telah pergi lama, agar dengan itu Engkau lepaskan resahku. Engkau gembirakan mataku. Ya Allah, tetapkanlah hukum-Mu di antara aku dan khalifah Abdul Malik bin Marwan yang telah memisahkan kami”.
Untungnya malam itu Khalifah Abdul Malik bin Marwan memang sedang menyamar di tengah pemukiman warga. Tujuannya, ya, itu tadi; mencari tahu opini warga soal pengiriman mujahidin ke medan jihad, khususnya istri-istri mereka. Dan suara perempuanlah itulah yang ia dengar.
Ini tabiat yang membedakan cinta jiwa dari cinta misi; pertemuan jiwa dalam cinta jiwa hanya akan menjadi semacam penyakit jika tidak berujung dengan sentuhan fisik. Disini rumus bahwa cinta tidak harus memiliki tidak berlaku.
Cinta jiwa bukan sekedar kecenderungan spritiual seperti yang ada dalam cinta misi. Cinta jiwa mengandung kadar sahwat yang besar. Dari situ akar tuntutan sentuhan fisik berasal. Mereka menyebutnya passionate love. Tanpa membawa semua penyakit. Sebagaimana hanya akan berujung kegilaan. Seperti yang dialami Qais dan Laila.
Ini mengapa kita diperintahkan mengasihi para pecinta; supaya mereka terhindar dari cinta yang seharusnya menjadi energi, lantas berubah jadi sumber penyakit. Maka sentuhan fisik dalam semua bentuknya adalah obat paling mujarab bagi rindu yang tak pernah selesai. Ini juga penjelasan mengapa hubungan badan antara suami istri merupakan ibadah besar, tradisi kenabian dan kegemaran orang shalih. Sebab, kata Ibnu Qayyim dan Imam Ghazali, ia mewariskan kesehatan dan jiwa raga, mencerahkan pikiran, meremajakan perasaan, menghilangkan pikiran dan perasaan buruk, membuat kita lebih awet muda dan memperkuat hubungan cinta kasih. Makna sakinah dan mawaddah adalah ketenangan jiwa yang tercipta setelah gelora hasrat terpenuhi,
Makna itu dapat dipahami Abdul Malik bin Marwan. Maka ia pun bertanya, “Berapa lama wanita bisa bertahan sabar?” “Enam bulan” jawab mereka. Kisah itu sebenarnya mengikuti pada temuan yang sama dimasa Umar bin Khattab. Dan di kedua kisah itu, kedua perempuan itu sama-sama melantunkan syair rindu dan hasrat, dan Abdul Malik bin Marwan mendengar bait ini;
air mata mengalir bersama larut malam
sedih mengiris hati dan merampas tidur
bergulat aku lawan malam
terawangi bintang hasrat rindu mendera-dera
melukai jiwa
Memang hanya puisi tempat jiwanya berlari. Melepas hasrat yang tak mau dilepas. Sebab rindu tetap saja rindu. Puisi tak akan pernah sanggup menyelesaikannya. Sebab memang begitulah hukumnya; hanya sentuhan fisik yang bisa mengobati hasrat jiwa.

1/06/2012 | Posted in , , | Read More »

Sinergi Gerakan Islam

al-intima.com-Dunia Islam kini menyaksikan lahirnya berbagai harakah, tandzim, jama’ah dan firqah Islamiyah yang beraneka ragam. Terdapat bermacam-macam madrasah pemikiran, yang masing-masing memiliki manhaj tersendiri dalam berkhidmat dan berjuang menegakkan Islam di muka bumi, sesuai dengan penentuan sasaran, prioritas dan tahapannya.


Yusuf Qaradawi dalam bukunya Fiqhul Ikhtilaf menyatakan bahwa tidaklah menjadi masalah adanya beberapa kelompok dan jama’ah yang berjuang untuk menegakkan Islam, apabila hal itu merupakan ta’addudu tanawwu’ (perbedaan yang bersifat variatif) bukan ta’addudu ta’arudh (perbedaan yang bersifat kontradiktif). Syarat lainnya, antar semua pihak ada hubungan kerja dan koordinasi. Sehingga saling menyempurnakan dan menguatkan. Dalam menghadapi masalah-masalah asasi dan keprihatinan bersama harus mencerminkan satu barisan, laksana bangunan yang kokoh.

Tetapi pada kenyataannya—seperti diungkapkan Fathi Yakan dalam Aids Haraki—ta’addudiyah (berbilangnya harakah, tandzim, jama’ah dan firqah Islamiyah) yang ada kini tidak melahirkan kecuali semakin memuncaknya permusuhan. Ia menghembuskan nafsu hasad dan dengki kepada sesama, yang pada akhirnya mengakibatkan saling bertengkar dan saling intai kelemahan, yang seharusnya saling memahami dan saling menutupi kesalahan.

Realita yang diungkapkan  Fathi Yakan diamini Anis Matta, menurutnya saat ini, antar anggota harakah kerap terjadi pergesekan, baik langsung maupun tidak. Yang langsung—misalnya—tampak dalam persaingan antar kelompok harakah di kampus, sekolah, masjid, dan berbagai instansi lainnya yang sudah tersentuh dakwah, untuk saling menonjolkan diri dan mengambil peran yang lebih dominan.

Sementara yang tidak langsung adalah melalui bias pencitraan tidak proporsional tentang harakah lain yang dilakukan elit satu harakah terhadap pengikutnya. Yang satu sering membid’ahkan yang lain, yang lain menuduh antek Yahudi, yang satu lagi menuduh terlalu keras, sementara yang lain lagi menuding terlampau toleran.

Proses itu, secara bawah sadar, akan menciptakan identifikasi picik bahwa kita benar dan mereka salah, dan pada gilirannya—secara bawah sadar pula—akan menimbulkan kesadaran naïf bahwa mereka adalah lawan kita.

Para aktivis dakwah hendaknya mewaspadai fenomena ini. Jangan sampai ekses negative ta’aduddiyah tumbuh subur tak terkendali sehingga memungkinkan musuh-musuh Islam memanfaatkannya untuk menghancurkan harakah Islam itu sendiri. Sudah saatnya para aktivis dakwah di berbagai harakah, tandzim, jama’ah dan firqah Islamiyah saling bersinergi. Berupaya mendekatkan persepsi, menyatukan hati, membersihkan diri dari ta’asshub (fanatisme) serta membina suasana penuh ukhuwah, kerjasama dan saling memahami.

Mengapa harus bersinergi?

Dalil dari Al-Qur’an
Taujih Rabbani dalam Al-Qur’an dengan jelas dan tegas menekankan kewajiban bersinergi. Allah azza wa jalla menyeru orang-orang beriman agar memelihara persatuan dan kesatuan. Firman-Nya:

Berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah bercerai berai, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.(QS. Ali Imran, 3: 103)

“Janganlah kalian seperti orang-orang yang berpecah belah dan bertikai setelah datang sejumlah petunjuk kepada mereka.” (QS. Ali Imran, 3: 105)

Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. (QS. Al-Hujurat, 49: 10)

Bahkan lebih jauh, Al-Qur’an menegaskan bahwa berbantah-bantahan akan menyebabkan kegagalan dan hilangnya kekuatan:

Taatlah kepada Allah dan rasul-Nya, janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gagal dan hilang kekuatan. Bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al-Anfal, 8: 46)

Tanpa penafsiran yang ngejlimet ayat-ayat di atas dapat kita fahami dengan terang, bahwa Allah SWT menyeru setiap kita untuk selalu bersatu padu.

Dalil dari Sunnah
Seperti halnya Al-Qur’an, sunnah nabawiyah pun menegaskan tentang pentingnya bersinergi; saling mendukung dan bersatu padu. Rasulullah SAW bersabda,

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا وَشَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ

“Orang mukmin terhadap orang mukmin yang lain bagaikan bangunan yang sebagiannya menyangga sebagian yang lain.” (HR Bukhari dan Muslim)

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ
“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain, ia tidak meremehkannya, tidak menghinakannya, dan tidak menyerahkannya (kepada musuh).” (HR Muslim)

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan kaum Muslimin dalam cinta, kekompakan, dan kasih sayang bagaikan satu tubuh, jika salah satu anggota tubuhnya mengeluh sakit, maka seluruh anggota tubuh juga ikut menjaga dan berjaga.” (HR Bukhari)

Dalil dari realita
Realita kompleksitas dan beratnya problematika dakwah kontemporer juga menjadi dalil yang kuat guna mendorong setiap kita mau bersinergi. Abu Ridho menandaskan bahwa krisis yang tengah melanda umat Islam saat ini tidak lagi terkonsentrasi pada aspek-aspek tertentu dalam kehidupan umat, melainkan menyentuh keseluruhannya. Hampir dalam semua segi kaum muslimin mengalami kemunduran.

Hasan Al-Banna mengungkapkan bahwa secara politik kaum muslimin terjajah oleh musuh-musuhnya, sementara rakyatnya terpecah belah dalam intrik-intrik kepartaian. Dalam bidang ekonomi system riba merajalela, perusahaan-perusahaan asing menguasai hampir seluruh sector ekonomi dan mengeksploitasi sumber daya alamnya. Dalam bidang pemikiran, berbagai isme telah merancukan ideology, aqidah, kesadaran, dan pola pikir putera-putera bangsanya.

Dalam bidang social, dekadensi moral dan hedonisme telah mencabut akar keluhuran budi pekerti dan rasa kemanusiaan yang mereka warisi dari pendahulu-pendahulu mereka. Sementara demam kebarat-baratan telah merubah gaya hidup dalam semua sisinya secara begitu cepat, secepat aliran bisa ular yang menjalar ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah, dan akhirnya mengeruhkan ketenangannya. Dalam bidang yang sama mereka dikuasai oleh undang-undang bumi (buatan manusia) yang belum pernah terbukti mampu menghentikan langkah-langkah congkak para kriminalis, mencegah kezhaliman, dan—di atas itu semua—takkan pernah sanggup mengungguli perundang-undangan langit yang telah diletakkan oleh Sang Maha Pencipta, Raja di raja dan Pemilik semua jiwa manusia.

Dalam bidang pendidikan, bangsa-bangsa muslim dililit oleh system pendidikan barat yang terbukti gagal membangun generasi penerus yang akan mengemban amanah kebangkitan di masa datang. Selanjutnya, dalam bidang kejiwaan ia telah dijangkiti oleh keputusasaan yang membinasakan, kemalasan dan apatisme, kepengecutan dan kerendahdirian, sikap tidak jantan, egoisme, dan kebakhilan, yang semua itu telah berhasil mengikis semangat berkorban dan menyeret umat Islam keluar dari barisan para mujahidin menuju barisan orang-orang yang lengah dan lalai.

Oleh karena itu, setiap kita harus sadar, bahwa upaya memajukan Islam dan umat Islam mustahil hanya diemban oleh satu harakah, tandzim, jama’ah atau firqah Islamiyah tertentu. Ia pun mustahil dilakukan hanya dengan satu bentuk pendekatan dakwah; apakah tabligh saja, taklim saja, tarbiyah (pendidikan) saja, tatsqif (penyebaran wawasan) saja, amal khidami (pelayanan) saja, iqtishadi (ekonomi) saja, siyasah (politik) saja, jihad saja, dlsb. Terlebih lagi, gerakan Islam saat ini menghadapi tantangan yang cukup berat. Realita dakwah gerakan Islam kontemporer sangat berbeda dengan realita dakwah gerakan Islam pertama di masa lalu yang dimotori oleh Rasulullah SAW,

  1. Dakwah Islam pertama merupakan suatu tatanan yang menghimpun seluruh kekuatan kaum muslimin, sedangkan gerakan Islam kontemporer hanya menghimpun sebagian dari mereka.
  2. Gerakan Islam pertama di masa lalu merupakan jama’atul muslimin, sedangkan gerakan Islam kontemporer hanyalah merupakan jama’ah minal muslimin. Inilah realitas yang menjadikan dakwah Islam pertama bergerak terpadu menghadapi jahiliyah, sedangkan gerakan Islam kontemporer berada dalam situasi yg sulit. Disamping dituntut untuk menghadapi gerakan jahiliyah kontemporer, ia juga dipaksa mengambil sebuah sikap yang sesungguhnya sulit, atas basis luas bangsa-bangsa muslim yang tidak tunduk padanya. Kondisi seperti ini banyak dimanfaatkan oleh tatanan-tatanan jahiliyah.

Langkah Menuju Sinergi
Mewujudkan sinergi antar gerakan Islam mungkin bukan perkara mudah, tapi bukan berarti tidak mungkin diwujudkan. Oleh karena itu setiap kita harus mulai mencoba melangkah melakukan upaya pendekatan menuju sinergi.

Langkah tersebut bisa kita mulai dengan upaya-upaya berikut:
  1. Memahami ikhtilaf
  2. Melakukan hiwar haraki untuk mendekatkan persepsi
  3. Bekerjasama dalam masalah yang disepakati

Memahami ikhtilaf
Yusuf Qaradawy memaparkan beberapa langkah menuju tercapainya saling pengertian antar gerakan Islam dalam menyikapi ikhtilaf yang terjadi di antara mereka.

Pertama, bahwa untuk masalah-masalah furu’ perbedaan pendapat adalah sebuah kemestian dan rahmat. Kemestian itu terjadi karena tabiat agama Islam memang memberi peluang terjadinya perbedaan pendapat. Dalam kitab al-Arbain, Imam An-Nawawi meriwayatkan hadits dari Daruquthni, “Sesungguhnya Allah SWT telah membuat ketentuan-ketentuan, janganlah kamu melanggarnya; telah mewajibkan sejumlah kebaikan, janganlah kamu abaikan; telah mengharamkan banyak hal, janganlah kamu melanggarnya; telah mendiamkan banyak masalah sebagai rahmat bagimu, bukan karena lupa, janganlah kamu mencarinya.” Meminjam istilah Qaradawi, ada ‘kawasan kosong syariat’ yang sengaja Allah ta’ala sediakan.

Kedua, dengan mengikuti manhaj pertengahan dan meninggalkan sikap berlebih-lebihan dalam beragama. Meruncingnya ikhtilaf terjadi karena satu atau kedua belah pihak mengambil sikap berlebihan dalam beragama. Sikap ghuluw (berlebih-lebihan) dalam pelaksanaan agama sering menyebabkan seseorang memandang rendah dan mencerca mereka yang tidak mengikutinya. Maka tak heran jika Rasulullah mencela sikap ini, “Jauhkan dari kamu sikap berlebih-lebihan dalam agama. Karena orang sebelum kamu hancur hanya sebab berlebih-lebihan dalam agama.” (HR. Ahmad, Nasa’i, Ibnu Majah, Al-Hakim, Ibnu Huzaimah dan Ibnu Hibban dari Ibnu Abbas).

Ketiga, mengutamakan muhkamat bukan mutasyabihat. Ayat muhkamat memberi kepastian, sedang ayat mutasyabihat tanpa ilmu yang mendalam akan membuat seseorang yang mengikutinya mempertentangkan ayat yang satu dengan lainnya. Dari Abdullah bin Amr ra, ia berkata, “Rasulullah saw pernah keluar mendatangi dan mengecam serta mengingkari para sahabat yang sedang berbantah-bantahan tentang masalah taqdir.”

Keempat, tidak memastikan dan tidak menolak dalam masalah-masalah ijtihadiyah. Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah pernah ditanya tentang orang yang mengikuti sebagian ulama dalam masalah ijtihadiyah, apakah ia harus dihindari atau diingkari? Beliau menjawab, “Segala puji milik Allah. Orang yang dalam masalah-masalah ijtihadiyah mengamalkan sebagian pendapat ulama, tidak boleh diingkari dan dihindari. Demikian pula orang yang mengamalkan salah satu dari dua pendapat, tidak boleh dikecam. Jika dalam suatu masalah terdapat dua pendapat, maka bagi orang yang telah nampak mana yang lebih kuat boleh beramal sesuai dengannya. Tapi jika tidak, ia boleh mengikuti sebagian ulama yang dapat dipercaya dalam menjelaskan mana yang lebih kuat (rajah) di antara dua pendapat.”

Kelima, menelaah perbedaan pendapat para ulama. Dengan penelaahan yang jernih akan Nampak dalil-dalil yang melandasi perbedaan itu. Kemudian akan diketahui bahwa lautan syariah itu amat dalam dan luas. Akan Nampak kebenaran ungkapan, “Siapa yang tidak mengetahui ikhtilaf ulama, maka dia bukan ulama. Siapa yang tidak mengetahui ikhtilaf para fuqaha, maka hidungnya belum mencium bau fiqh.”

Melakukan hiwar haraki (dialog antar gerakan Islam) untuk mendekatkan persepsi
Anis Matta mengatakan bahwa frekuensi dialog bilateral antar harakah Islam perlu ditingkatkan, baik resmi maupun tidak resmi. Hiwar haraki yang sistematis, kalau toh tidak menghasilkan kesepakatan akhir, minimal akan memudahkan proses saling memahami dan mengerti antar sesama harakah Islam. Dalam konteks realitas kita, menurutnya, hiwar haraki itu membutuhkan dua hal: keluasan wawasan dan kematangan jiwa dalam menyikapi perbedaan. Pada beberapa kasus, aspek kematangan jiwa sering lebih dibutuhkan. Pasalnya, ada banyak konflik yang terjadi bukan disebabkan perbedaan sudut pandang, melainkan ketidakmatangan jiwa para peserta dialog.

Bekerjasama dalam masalah yang disepakati
Sungguh sangat elok jika para aktivis pergerakan Islam mampu duduk dalam satu majelis untuk merumuskan agenda bersama, menggarap masalah-masalah besar yang dihadapi ummat seraya mengesampingkan pertentangan-pertentangan kecil di antara mereka.

Marilah kita bekerjasama dalam menanamkan nilai-nilai keimanan dan Al-Qur’an pada jiwa generasi muda, dan membuang jauh-jauh perdebatan filsafat serta ilmu Kalam dan pengaruh ajaran-ajaran lain yang menimbulkan kebingungan dan pertentangan.

Marilah kita bekerjasama dalam membentengi generasi muda dari wabah atheisme dan segala ‘pengantar’nya berupa keraguan dan syubhat yang menggerogoti aqidah dan mengotori pemikiran.

Marilah kita bekerjasama dalam memperkuat keimanan umat kepada akhirat dan keyakinan akan balasan. Marilah kita usir segala syubhat yang berusaha mendangkalkan aqidah yang agung ini, atau segala bentuk syahwat yang menggoda manusia sehingga melalaikannya dari keyakinan ini.

Mengapa  kita tidak bekerjasama dalam meningkatkan pengajaran rukun-rukun amaliah Islam kepada kaum muslimin dan mencari cara yang terbaik untuk mendakwahkannya kepada mereka. Mengapa kita tidak bekerjasama dalam memperjelas, memperkokoh, dan menyampaikan pilar-pilar keimanan yang enam dalam akal dan hati kaum muslimin dengan bahasa yang sederhana sesuai dengan kesederhanaan Islam.

Marilah kita bekerjasama dalam mensosialisasikan makarimul akhlaq pada diri generasi muda dan tua. Marilah kita bekerjasama dalam mengusir segala kerendahan dan kenistaan yang bertentangan dengan nilai-nilai kebaikan.

Marilah kita bekerjasama dalam memelihara, mengaplikasikan, dan melindungi syariah dari permainan orang-orang yang ingin mengubah hal-hal yang qath’i (tegas dan gamblang) menjadi hal-hal yang zhanni (samar-samar); hal-hal yang muhkamat menjadi hal-hal yang mutasyabihat.

Marilah kita bekerjasama dalam mengajarkan ‘alfabeta’ Islam dan dasar-dasar aqidah, ibadah, akhlak dan adab yang tidak diperselisihkan oleh para ulama. Kita pun perlu bekerjasama menyampaikan dakwah Islam kepada semua penduduk bumi dengan bahasa yang mereka pahami, agar mereka dapat mengenal Islam secara benar dan tidak menjadi korban kejahatan musuh-musuh Islam yang merusak gambaran agama yang hanif ini.

Mengapa kita tidak bekerjasama menggarap pekerjaan yang sangat besar ini serta mempersiapkan para da’i  dan dana yang memadai?

Mengapa para pemikir dan aktivis Islam tidak melupakan perselisihan mereka mengenai masalah-masalah juz’iyyah ijtihadiyah, untuk kemudian menyatukan barisan dan front mereka dalam menghadapi kekuatan-kekuatan besar yang bersepakat menghancurkan mereka? Kenapa harus berputar pada masalah yang diperselisihkan yang menyebabkan kita lalai mengerjakan masalah lain yang kita sepakati yang jumlahnya jauh lebih banyak?

Maraji
Fiqhul Ikhtilaf, DR. Yusuf Qaradawi
Aids Haraki, Fathi Yakan
Dari Gerakan ke Negara, H.M. Anis Matta
Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin, Hasan Al-Banna
Waqfah Tarbawiyah, Lembaga Pengkajian Da’wah Islamiyah
Madah Tarbiyah, Lembaga Kajian Manhaj Tarbiyah Islamiyah

1/06/2012 | Posted in , , | Read More »

Agar Bisa Menikmati Indahnya Dakwah

Engkau hanya memerlukan kesadaran, bahwa yang engkau lakukan seluruhnya dalam dakwah ini adalah untuk Allah. Kerjamu untuk Allah. Keringatmu untuk Allah. Waktu yang engkau habiskan untuk Allah. Harta yang engkau alokasikan dalam dakwah adalah untuk Allah. Pikiran yang engkau curahkan untuk Allah. Tenaga yang engkau sumbangkan untuk Allah.
Berjalanmu dalam melakukan semua kegiatan, berangkat dan pulangnya, untuk Allah. Dudukmu dalam mengikuti rapat dan koordinasi, untuk Allah. Suaramu saat engkau menyampaikan pendapat dan pandangan, untuk Allah. Mengawali dan mengakhiri rapat dan semua pertemuanmu, untuk Allah. Program kerja yang engkau tunaikan, untuk Allah. Berlelah-lelahmu untuk Allah. Berpagi-pagimu untuk Allah. Bermalam-malammu untuk Allah.
Engkau hanya memerlukan kesetiaan, bahwa segala yang engkau pikirkan adalah untuk Allah. Segala yang engkau kerjakan adalah untuk Allah. Segala yang engkau rancang adalah untuk Allah. Segala yang engkau inginkan adalah ridha Allah.
Engkau tidak perlu memusingkan dirimu akan mendapatkan apa dalam jalan dakwah ini, karena itu urusan Allah. Engkau tidak perlu merisaukan posisimu seperti apa dalam organisasi dakwah karena telah diatur oleh Allah. Mungkin saja engkau mengetahui ada sebagian orang yang hasad kepadamu, kepada posisimu, kepada kedudukanmu, namun engkau telah menyerahkan semuanya kepada Allah. Engkau tidak perlu menyimpan rasa iri dengki atas posisi, kedudukan, jabatan, dan harta benda yang dimiliki saudaramu di jalan dakwah, karena engkau lebih menginginkan kedudukan mulia di sisi Allah.
Engkau tidak perlu resah memikirkan omongan dan sikap orang kepadamu, selama engkau selalu bersandar kepada Allah. Engkau tidak perlu menyibukkan diri untuk berharap-harap jabatan, posisi, kedudukan, kekuasaan tertentu dalam perjalanan dakwah, karena telah dikelola oleh Allah. Engkau tidak perlu menyibukkan diri untuk mencari-cari gemerlapnya pujian dalam mengemban amanah dakwah, karena segala puji hanyalah milik Allah.
Engkau hanya perlu menyibukkan diri untuk selalu membawa kesadaran Rabbaniyah dalam segala langkah. Engkau hanya perlu menyibukkan diri untuk selalu mengingat Allah dalam segala kegiatan. Engkau hanya perlu menyibukkan diri untuk memberikan kontribusi terbaik di jalan dakwah, dengan segala potensi dan kemampuan yang engkau miliki, karena Allah.
Engkau hanya perlu menyadari bahwa kemuliaan itu hanya milik Allah. Bukan pada jabatan, posisi, kedudukan, harta dan materi duniawi. Engkau hanya perlu memupuk dan menguatkan kecintaan kepada Allah, karena pada sisi Allah terdapat segala kekuatan dan kesempurnaan. Tidak ada orang terhina selama dia mendekat kepada Allah. Tidak ada orang mulia dalam menjauhi Allah.
Maka, resapilah setiap hari setiap saat, betapa nikmat berada di jalan dakwah ini. Karena proposalmu adalah kepada Allah, bukan kepada manusia. Proposalmu adalah kerja di jalanNya, bukan untuk posisi dunia.
Selamat menempuh jalan dakwah yang begitu nikmat, setiap waktu setiap saat.
Kartika Chandra, penutupan konsinyering, 23 Oktober 2011
Sumber : http://cahyadi-takariawan.web.id/

1/04/2012 | Posted in , , , | Read More »

Tarbiyah Itu Melejitkan Potensi

Tarbiyah Islamiyah adalah proses penyiapan manusia yang shalih agar tercapai keseimbangan potensi, tujuan, ucapan, dan tindakannya secara keseluruhan. Visi tarbiyah mencetak kader Robbani dengan sepuluh karakteristik yang kita sudah ketahui bersama. Singkat kata tarbiyah ingin membentuk generasi unggul seperti para sahabat terdahulu yang berhasil membangkitkan Islam pada awal berdirinya.

Dirumah Abu Abdillah Al Arqam bin Abi Al Arqam para sahabat biasa mengikuti halaqoh yang langsung ditangani oleh Rasulullah saw. Begitupun pun tarbiyah, halaqoh adalah fondasi dasar pembentukan kader-kader unggul.

Dalam berbagai teori kesuksesan Barat, menjadi sukses memerlukan coach. Dalam Halaqoh pun peran murrobi sangat sentral untuk mengimplementasikan manhaj pembinaan pada kader-kader dalam lingkaran halaqohnya. Pada proses awal halaqoh, disaat seseorang baru berkenalan dengan Islam yang universal akan terjadi kecenderungan perubahan radikal pada dirinya, tak jarang polah tingkahnya pun menjadi radikal. Namun hal itu masih dalam batas yang wajar, dalam proses selanjutnya akan terjadi pendewasaan dan pematangan ideologis dalam diri kader tersebut.

Dalam perjalanannya banyak muncul fenomena figuritas kader terhadap murrobbi atau anggapan bahwa halaqoh adalah segalanya, itu biasa terjadi dan solusi terkait pun sudah banyak. Namun ada beberapa fenomena lain yang berkembang dari perjalanan halaqoh kini, yaitu seputar karakter kader yang terbentuk, diantaranya berpikiran sempit dan tak bervisi serta macam-macam karakter tak unggul lainnya yang menggambarkan tak kunjung matang dan dewasanya sebuah proses ideologisasi. Padahal seharusnya tarbiyah mampu merubah pecundang menjadi pemenang dan dapat memuncukan potensi yang terpendam.

Apa penyebabnya? Tak lain karena peranan tarbiyah dzatiyah yang tak mereka punyai dalam diri. Bagaimanapun tarbiyah dzatiyah atau pengalaman belajar mandiri justru memiliki peranan besar dalam proses pembinaan kader itu sendiri.

Kesadaran akan pengalaman belajar mandiri ini yang harusnya dipantik dalam proses halaqoh dan disinilah sejatinya peran seorang murrobbi sebagai coach. Murrobbi harus berperan sebagai fasilitator dalam melejitkan potensi binaannya, bukan hanya memutabaah ibadah yaumiyah dan komitmen berjamaahnya saja. Hal ini yang menyebabkan terkekangnya potensi kader.  

Sebuah refleksi untuk kita para murrobbi, sudahkah kita membuat visi halaqoh binaan kita? Jika sudah, apakah visi tersebut dijiwai sebagai acuan dalam proses pembinaan atau tidak? Gagal berencana sama saja merencanakan kegagalan. Tak ada visi dalam halaqoh yang pada akhirnya menjadi penyebab tumpulnya potensi kader, karena Tarbiyah itu melejitkan potensi bukan mengekang.

Bogor, 14 Desember 2011

Eko Wardaya (Islamesia.we.id)

1/04/2012 | Posted in , , , | Read More »

Nikmati Jalan Dakwah, Sebagai Apapun atau Tidak Sebagai Apapun Kita

Oleh : Cahyadi Takariawan*
Terlalu sering saya sampaikan, agar kita tidak gagal dalam menikmati jalan dakwah. Dalam berbagai forum dan tulisan, saya selalu mengajak dan mengingatkan, agar kita selalu menjadikan jalan dakwah ini sebagai sesuatu yang kita nikmati. Segala renik yang ada di sepanjang jalannya: suka dan duka, tawa ria dan air mata, kemenangan dan kepedihan, tantangan dan kekuatan, sudahlah, semua itu adalah bagian yang harus bisa kita reguk kenikmatannya.

Di antara doa yang sering saya munajatkan adalah, “Ya Allah, wafatkan aku dalam kondisi mencintai jalan dakwah, dan jangan wafatkan aku dalam kondisi membenci jalan ini.” Tentu saja bersama doa-doa permohonan lainnya. Saya tidak ingin menjadi seseorang yang mengurai kembali ikatan yang telah direkatkan, mengungkit segala yang telah diberikan, dengan perasaan menyesal dan meratapi segala yang pernah terjadi di jalan ini.

Saya merasa bukan siapa-siapa, dan hanya seseorang yang mendapatkan banyak kemuliaan di jalan ini. Mendapatkan banyak saudara, mendapatkan banyak ilmu, memiliki banyak pengalaman, mengkristalkan banyak hikmah, menguatkan berbagai potensi diri, menajamkan mata hati dan mata jiwa. Luar biasa, sebuah jalan yang membawa berkah melimpah. Maka, merugilah mereka yang telah berada di jalan ini tetapi tidak mampu menikmati.


Maka mari kita nikmati jalan dakwah ini, “sebagai apapun” atau “tidak sebagai apapun” kita. Posisi-posisi dalam dakwah ini datang dan pergi. Bisa datang, bisa pergi, bisa kembali lagi, bisa pula tidak pernah kembali. Bisa “iya” bisa “tidak”. Iya menjadi pengurus, pejabat, pemimpin dan semacam itu; atau tidak menjadi pengurus, tidak menjadi pejabat, tidak menjadi pemimpin, tidak menjadi apapun yang bisa disebut.

Kamu siapa ?

“Saya pengurus partai dakwah”. Ini bisa disebut.

“Saya pejabat publik yang diusung oleh partai dakwah”. Ini juga bisa disebut.

“Saya pemimpin organisasi dakwah”. Ini sangat mudah disebut.

“Saya kepala daerah yang dicalonkan dari partai dakwah”. Ini cepat disebut.

Tapi, kamu siapa ?

“Saya orang yang selalu berdakwah. Pagi, siang, sore dan malam. Kelelahan adalah kenikmatan. Perjuangan adalah kemuliaan. Saya bahkan tidak tahu, apa nama diri saya. Karena saya lebih suka memberikan hal terbaik bagi dakwah, daripada mencari definisi saya sebagai apa di jalan ini”.


Ya. Nikmati saja jalan ini. Sebagai apapun, atau tidak sebagai apapun diri kita di jalan dakwah. Jangan gagal menikmati.


12 Oktober 2011

Selesai Rapat di Markaz Dakwah, Simatupang.

*posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Indonesia

1/04/2012 | Posted in , , | Read More »

Syaikh Muhammad Badi’: Ikhwanul Muslimin Semakin Mendekati Khilafah Islamiyah

Ikhwanul Muslimin semakin dekat untuk mencapai “tujuan akhir” yang ditetapkan oleh pendiri Ikhwanul Muslimin  Hasan Al Banna pada tahun 1928. Proyek ini dimulai dengan pembentukan pemerintahan dan berakhir dengan pembentukan sebuah khilafah Islamiyah, kata Syaikh Muhammad Badi’, Mursyid ‘Amm Ikhwanul Muslimin di Mesir pada hari Kamis kemarin (29/12), dalam pesan mingguannya di situs resmi kelompok tersebut.
Ketika Ikhwanul Muslimin pertama memulai misinya, mereka bertujuan untuk membimbing dan mendukung kebangkitan bangsa sehingga dapat memperoleh kembali posisinya setelah lama mengalami keterlambatan dan resesi, Badie mengatakan.
Dia melanjutkan dengan menjelaskan dua tujuan yang digariskan oleh Imam Hasan Al Banna di konferensi keenam jamaah Ikhwanul Muslimin. Tujuan pertama adalah untuk meningkatkan jumlah keanggotaan jamaah. Yang kedua adalah pembentukan sebuah rencana jangka panjang untuk melakukan reformasi dari semua aspek kehidupan masyarakat.
Imam Hasan Banna menentukan tahap di mana tujuan akhir dapat dicapai, kata Syaikh Muhammad Badi’. Langkah pertama adalah pembinaan individu, keluarga, lingkungan masyarakat, sistem pemerintahan, dan akhirnya membangun sistem khilafah Islamiyah.
Dalam pesannya Kamis kemarin, pemimpin Ikhwan mengaitkan Arab Spring dengan tujuan akhir dari Ikhwan, mengatakan bahwa pemberontakan bermaksud untuk mencapai target tertentu, di mana mereka menolak untuk berkompromi.
“Dalam musim semi Arab tekad revolusioner rakyat untuk mencapai target tertentu di mana mereka setuju, dan tidak pernah berkompromi, merupakan faktor utama dalam menjatuhkan rezim yang menindas dan setiap organisasi yang korup. Kita sekarang semakin dekat untuk mencapai kebaikan yang lebih besar untuk mendirikan sebuah rezim yang berkuasa yang sesuai dengan yang kita inginkan termasuk semua lembaga dan elemen,” kata Syaikh Muhammad Badi’.
Dia menuduh para penentang Ikhwanul Muslimin berusaha menghalangi jamaah dengan menciptakan konflik-konflik yang tidak perlu, yang pada kenyataannya hanya dalih untuk merobek persatuan bangsa dan membatalkan revolusi.
“Kami, setelah majelis syura, akan bergerak maju, dan kami berkomitmen untuk mencapai tujuan bangsa dan revolusi yang kami inginkan, termasuk mewakili jutaan rakyat Mesir di parlemen dan mulai pembentukan lembaga negara yang adil, ” kata Syaikh Muhammad Badi’ menegaskan.

almasyrialyoum | eramuslim | fimadani

1/04/2012 | Posted in , , | Read More »

Soliditas Jama'ah

Ikhwan dan akhwat fillah, untuk sebuah soliditas jamaah, kita memerlukan suatu kondisi, yang sering disebut dengan istiqrar, ketenangan atau kestabilan. Sudah barang tentu kondisi ini pertama-tama dituntut dari setiap aktivis dari jamaah ini, dari setiap kader, dari ikhwan atau akhwat yang mempunyai komitmen dengan gerakan dakwah ini.

Istiqrar Nafsi
Pertama, setiap kader harus selalu memperhatikan istiqrarun nafsi, ketenangan dan stabilitas jiwanya. Jangan sampai akibat kesibukan yang demikian banyak, tantangan yang demikian berat, tuntutan akan pengorbanan yang melampaui batas-batas kemampuan membuat jiwa kita menjadi kacau, an-nufus al-murtabikah, yang kacau terguncang, yang akhirnya seperti yang sering disindir oleh Sayyid Quthub, sebagai an-nufus al-mahzumah, jiwa yang kalah lebih dulu sebelum terjun ke medan pertempuran. Oleh karena itu setiap kader, ikhwan dan akhwat harus memperhatikan, harus memberikan inayah yang cukup terhadap istiqrarun nafsi, ketenangan jiwanya.
Ketenangan jiwa hanya bisa diraih melalui upaya mengarahkan hati kita selalu berhubungan dengan Allah Taala, al-muta’alliqah billah. Hanya dengan itulah itmi’nanun nafsi, ketenangan jiwa bisa ditumbuhkan, bisa dipelihara dan bisa dikembangkan.
Ikhwan dan akhwat fillah, kita sebagai duat dan da’iyat ilallah harus menjadi orang yang paling sanggup memelihara hatinya dalam kondisi al-qulub al-muthmainnah. Dari sanalah akan tumbuh tsiqah, watsiqun billah, watsiqun binashrillah, yakin betul kepada Allah, yakin betul akan adanya kemenangan yang dianugerahkan oleh Allah. Tanpa itu dengan tantangan dan tugas berat ini kita akan gelisah. Oleh karena itu hati kita harus selalu dihubungkan dengan kekuatan Maha Besar, yaitu Allah Taala. Yang bukan saja menggerakkan alam semesta, tapi Dialah Pencipta alam semesta. Dialah yang mengarahkan ke mana bergeraknya alam semesta, tarmasuk fenomena dengan aneka ragam kelompok dan ideologinya, aneka ragam programnya, seluruhnya digerakkan oleh Allah dan akan mencapai target-target yang sudah dibatasi oleh iradatillah dan masyiatillah. Menghadapi akan hal ini tidak akan pernah bisa merasa gentar melihat kekuatan apa yang disebut partai besar, karena Allahlah Yang Maha Besar. Kita tidak pernah merasa minder melihat partai yang kaya raya, karena Allah yang Maha kaya dan Maha Mulia. Yakin, mungkin apa yang kita miliki sekarang sedikit, tapi yang dijanjikan Allah dalam rangka pertolongan-Nya adalah Maha Besar. Maa indakum yanfadu wa maa indallaahi baaqin, apa-apa yang disediakan oleh Allah untuk para mujahidin, para duat ilallah la yanfad, baaqin laa yanfad.
Qanaah inilah yang harus kita miliki. Tanpa qanaah kita akan ngeri melihat kekayaan yang dimiliki partai-partai besar yang demikian banyak seolah-olah di mata kita akan berlomba dengan kekuatan seperti itu. Tetapi kalau kita yakin bahwa yang memerintahkan kita berlomba adalah Allah Taala dalam rangka al-khairat, fastabiqul khairat, kita insya Allah tidak akan ragu untuk start dan berjalan dengan manhaj Allah dan mencapai finish, mardhatillah. Allahu Akbar! Allah Akbar!
Jiwa yang semacam itulah yang harus dimiliki oleh para duat sehingga apapun yang kita hadapi kalkulasinya bukan kalkulasi bumi, tapi kalkulasi samawi, di mana seluruh fenomena universal ini tidak ada yang terlepas dari tadbir rabbani. Sekali-kali hanya qulub muthmainnah sajalah yang akan betul-betul watsiqun billah wa watsiqun binashrillah.
Ikhwan dan akhwat fillah, alhamdulillah, selama ini jamaah selalu memahami kita, menjaga kita, memelihara kita, memberi inayah kepada kita agar hati kita terpelihara, jangan sampai menjadi nufus murtabikah, jangan menjadi jiwa yang guncang, jiwa yang kalut dalam menghadapi tantangan. Dan bahkan Allah Taala telah mengarahkan kepada kita bagaimana agar istiqrarun nafsi itu bisa dipelihara, maka kemudian Allah mewajibkan dan menyunahkan akan adanya sunnah berumah tangga dan berkeluarga. Karena berkeluarga adalah salah satu jenjang, salah satu sarana, salah satu wadah untuk memelihara nufus mustaqirrah.
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Q.S. Ar-Ruum: 21)
Istiqrar ‘Aili
Oleh karena itu istiqrarun nafsi itu harus dilanjutkan dengan upaya mewujudkan yang kedua, yaitu: istiqrarun ‘aili, ketenangan dan kestabilan keluarga para dai dan daiyat. Saya menyadari, sesadar-sadarnya bahwa keluarga duat dan daiyah tidak seperti keluarga kebanyakan manusia. Dari mulai munthalaqnya, pangkal bertolaknya mereka berumah tangga, dimana rumah tangga itu dibangun dengan mahabbah fillah. Apa lagi sama-sama dibangun melalui wihdatul aqidah, wihdatul fikrah dan wihdatul minhaj. Bahkan selalu seiring bergandengan tangan dalam perjalanan dakwah dengan segala pengorbanannya, maka ikatan mahabbah fillah yang didasari wihdatul aqidah, wihdatul fikrah dan wihdatul manhaj itu diikat pula oleh ikatan romantisme dakwah. Ikatan romantika dakwah yang mengikat rumah tangga kita. Allahu akbar walillahil hamd.
Oleh karena itu saya pesankan, setelah kita selalu memelihara istiqrarun nafsi, kita pun harus betul-betul memelihara istiqrar ‘aili kita, stabilitas dan ketenangan rumah tangga kita. Saya sering mengatakan bahwa rumah tangga dai adalah rumah tangga qa’idah da’wiyah, homebase bagi dakwah itu. Dan komandan markasnya adalah istri kita. Sudah barang tentu para junudullah membutuhkan ri’ayah dari komandan agar kegairahan berdakwahnya tetap bergelora, agar semangat dakwahnya tetap menggebu, agar daya juangnya tetap berkobar. Oleh karena itu mu’asyarah bil ma’ruf, mu’asyarah zaujiyah bil ma’ruf adalah merupakan sendi-sendi yang harus diperhatikan dalam memelihara istiqrar ‘aili, kestabilan keluarga dai.
Sekali lagi kepada ikhwan dan kepada akhwat, kepada keduanya, saya pesankan untuk betul-betul menjaga memelihara al-istiqrar al-‘aili, sebab jika ‘ailat du’at dan da’iyah ghairu mustaqirrah, tidak tenang, tidak stabil, sudah barang tentu cukup merepotkan jamaah, cukup menghambat gerak langkah jamaah ini. Karena dia merupakan labinatun min labinaatul jamaah, salah satu batu bata dari struktur jamaah ini. Setelah binaul fard adalah binaul usrah, apakah itu usrah harakiyah apakah usrah yang bersifat fithriyah, kauniyah dan nasabiyah seterusnya harus dipelihara. Tanpa itu kaki kita akan tersandung-sandung, jalan kita akan terseok-seok. Sekarang ini setelah istiqrarun nafsi, istiqrarun ‘aili itu harus benar-benar dipelihara bersama oleh seluruh komponen keluarga. Pelihara hubungan dengan istri, dengan suami, dengan anak dengan mertua dengan orang tua, dengan siapa pun yang terkait dengan keluarga kita, karena seluruhnya adalah merupakan ra’sul mal, modal utama bagi dakwah ini.
Istiqrar Ijtima’i
Ikhwan dan akhwat fillah, yang ketiga adalah istiqrar ijtima’i, stabilitas sosial kita dalam berkomunikasi dengan tetangga, dengan masyarakat lingkungan. Kita harus husnul jiran, baik jari dzil qurba, apakah tetangga yang memang kerabat atau jari dzil junub, atau tetangga yang jauh, apakah jauh lokasi rumahnya, mungkin terselang beberapa rumah, tapi masih bagian dari lingkungan kehidupan kita atau dekat tapi jauh dari nasabnya. Seluruhnya harus kita pelihara. Kalau kita bisa memelihara istiqrar ijtima’i, insya Allah lingkungan kita akan menjadi al-qaidah al-ijtima’iyah bagi dakwah kita. Apalagi lingkungan-lingkungan kita sekarang sesuai dengan perjalanan dakwah, sudah merupakan akumulatif dari kumpulan keluarga-keluarga ikhwan dan akhwat yang berhimpun di suatu daerah, suatu area atau bahkan sengaja membuat kampung atau komplek sendiri. Sudah barang tentu harus memperlihatkan keteladanannya dalam al-istiqrar al-ijtima’i, harus memancarkan qudwah, keteladanan mujtama’ mustaqir, masyarakat yang tenang dan tenteram. Karena masyarakat yang tenang dan tenteram sajalah yang akan memberikan kontribusinya, akan memberikan sumbangsihnya bagi lingkungan-lingkungan yang lebih luas, umat, bangsa dan negara.
Istiqrar Tanzhimi
Ikhwan dan akhwat fillah, dengan modal istiqrar nafsi, istiqrar ‘aili dan istiqrar ijtima’i itu, insya Allah secara struktural kita pun akan tenang, tanzhim kita akan tenang, tidak banyak PR, tidak banyak urusan internal, tidak mendengar sindiran sebagai jamaah qadhaya, karena yang selalu dibahas qadhaya dan qadhaya. Dan ini tadzkirah, saya kira fenomenanya sedikit, tapi bagi jamaah dakwah cukup mengusik, mengusik hati, mengusik pikiran. Potensi qiyadah dan qa’idah dan junud terkuras oleh hal-hal yang begitu. Oleh karena itu dengan modal istiqrar nafsi, istiqrar ‘aili dan istiqrar ijtima’i, insya Allah akan mencapai yang keempat: yaitu istiqrar tanzhimi. Tanzhim kita insya Allah akan menjadi tanzhim mustaqir, menjadi struktur yang stabil, yang tenang, tidak direpotkan oleh isu, oleh gosip, oleh kasak kusuk, oleh friksi-friksi yang na’udzubillah jika dibiarkan akan menjadi fraksi-fraksi.
Istiqrar Da'wi
Ikhwan dan akhwat fillah, jika istiqrar tanzhimi tadi bisa terwujud, maka insya Allah terjadilah istiqrar da'wi, dakwah kita stabil, jalan terus. Guncangan apapun tidak akan membuat kita terguling, jebakan apapun tidak akan membuat kita terperosok, situasi apapun tidak membuat kita terkecoh.

http://al-intima.com/taujih-ust-hilmi-aminuddin/soliditas-jamaah

1/04/2012 | Posted in , , | Read More »

Taujih Bagi Kader Dakwah di Lembaga Legislatif

Dakwah di Lingkaran Kekuasaan
Masuk dalam lingkaran kekuasaan adalah bagian penting dari misi dakwah. Allah SWT berfirman:

وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ مُصَدِّقُ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَلِتُنْذِرَ أُمَّ الْقُرَى وَمَنْ حَوْلَهَا …. (الأنعام :٩٢)
 Inilah Kitab (alquran) yang Kami turunkan; yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) ummul Qura (Mekah) dan orang-orang yang di luar lingkungannya.

 Dalam ayat ini disebutkan kalimat Walitundzira ummal qura: ‘agar kamu memberi peringatan kepada ummal qura’. Ummal Qura arti harfiahnya adalah ibukota atau penduduk ibukota. Wa man haulahaa dan sekitar ibukota.  Di dalam kitab tafsir disebutkan bahwa ummal qura’ itu  haitsu yaskunuu fiihaa al-qadaatul mujtama’uun, dimana tinggal disana para pemimpin yang diikuti. Ini artinya Ibukota  adalah pusat kekuasaan, pusat perubahan, dan pusat pengambil keputusan.
Dakwah harus walitundzira ummal quraa’ agar dapat mempengaruhi pusat kekuasaan dan pusat perubahan, serta men-shibghah (mewarnai) pusat-pusat pengambil keputusan. Kenapa mesti demikian? Jawabannya adalah karena Islam menginginkan perubahan yang sistemik bukan perubahan yang parsial dan tambal sulam.  Jika kita menjauhi atau bahkan membenci perjuangan dakwah menuju pusat kekuasaan, pusat perubahan dan pusat pengambil keputusan. Kita akan menjadi umat yang termarginalkan, tersisih, tidak berperan, dan tidak diperhitungkan. Umat hanya akan menjadi komoditi nonmigas di saat-saat pemilu dan pilkada, dan tidak menjadi umat yang menentukan perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Dalam kondisi seperti ini perubahan sistemik tidak akan terjadi; betapapun rajinnya kita bekerja keras di tengah-tengah kaum  fuqoro’ dan masaakin yang  termarginalkan itu; betapapun kita kerja keras di tengah-tengah komunitas-komunitas yang tersisihkan. Gerak langkah perjuangan dakwah kita harus mencapai ummal qura’. Sehingga muara alur perjuangan di tengah-tengah rakyat dan di tengah-tengah pusat kekuasaan bertemu. Untuk menghasilkan perubahan dan pembaharuan yang sistemik,  yang Insya Allah bermanfaat bagi semua. 

Dalam ayat lain surat al-qashash ayat 59, disebutkan hal yang sama:

وَمَا كَانَ رَبُّكَ مُهْلِكَ الْقُرَى حَتَّى يَبْعَثَ فِي أُمِّهَا رَسُولا يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِنَا (القصص :٥٩)

Dan tidak sekali-kali Allah tuhanmu Rabb-Mu membinasakan suatu negeri sehingga di ibukotanya dibangkitkan seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami.

Pengiriman Rasul sudah diakhiri dengan Muhammad SAW, akhirul anbiyaa’ wal mursalin. Tapi misi kerasulan tetap berjalan diwarisi oleh umatnya. Dan mudah-mudahan kita semua diakui oleh Allah SWT sebagai waratsatul anbiyaa ‘ wal mursalin. Yang mengemban risalah Islamiyah. Bukan hanya di tengah-tengah masyarakat, tapi juga fii ummiha.  Yatluu ‘alaihim aayaatinaa di pusat-pusat kekuasaan, pusat kekuatan, pusat perubahan dan pusat pengambil keputusan.

Kita –yatluu ‘alaihim aayaatinaa- membacakan ayat-ayat Allah; menyampaikan hidayah Allah, menyampaikan hidayah rasulullah.  Sehingga Insya Allah bangsa dan Negara ini bisa berubah secara substantive, bisa berubah secara sistemik.


Kader Dakwah & Lembaga Legislatif
Kader dakwah harus masuk ke lembaga legislatif, walaupun ia tahu isinya macam-macam orang, macam-macam kepentingan, macam-macam ideologi, macam-macam kelakuan. Lembaga ini hendaknya dijadikan laboratorium pengembangan diri kader dakwah untuk menjadi rijalud daulah; menjadi negarawan dan negarawati.

Selain itu, di lembaga legislatif kader dakwah hendaknya mempunyai peran advokasi; membela kepentingan rakyat, kepentingan dakwah, dan kepentingan umat. Mereka harus menjadi payung politik bagi seluruh aktivitas keislaman yang dilakukan oleh jama’ah, partai, ormas, dan yayasan manapun.  Jangan pilih-pilih ormas ini – ormas itu, madzhab ini- madzhab itu, kecuali yang disepakati oleh ahli sunnah wal jama’ah sebagai kelompok yang sesat.

Kader dakwah di lembaga legislatif juga memiliki peran sebagai penterjemah. Sebagaimana kita ketahui, aturan-aturan, produk-produk legislative, undang-undang dasar, perundang-undangan, dan perda-perda, biasanya menggunakan kalimat-kalimat umum. Maka disinilah kader dakwah berperan menerjemahkan kalimat-kalimat umum itu  untuk kepentingan Islam dan muslimin! Terjemahkanlah untuk kepentingan umat! Terjemahkanlah untuk kepentingan dlu’afa! Para kader dakwah harus menjadi mutarjimun ijaabiyyun (penterjemah positif) dari undang-undang, perda, dan produk-produk legislasi. 

Berikutnya, para kader dakwah harus berperan sebagai iron stock dari umat ini. Kita membutuhkan kader-kader negarawan-negarawati yang siap mengelola supra struktur dan infra struktur Negara.  Kita butuh kader-kader perjuangan Islam ini di semua level penyelenggara Negara. Para kader dakwah harus menjadi yang paling terdepan.

Terakhir yang harus dicamkan para kader dakwah di lembaga legislatif adalah bahwa mereka memiliki peran investigative. Mata dan telinga mereka harus  melihat dan mendengar lebih banyak tentang kehidupan berbangsa dan bernegara dibanding kader dakwah yang berada di luar. Gali inforamasi, kenali sikap, agenda-agenda, juga kemungkinan adanya konspirasi-konspirasi  yang akan merusak kehidupan berbangsa dan bernegara; merusak Islam dan muslimin, merusak dakwah atau mengancam dakwah. 

SUMBER : http://al-intima.com/taujih-ust-hilmi-aminuddin/taujih-bagi-kader-dakwah-di-lembaga-legislatif

1/02/2012 | Posted in , , | Read More »

BANGKIT, TUNTASKAN AGENDA PERUBAHAN!


Syamsudin Kadir
Ruang gerakan dakwah dari waktu ke waktu membentang semakin lebar. Ibarat bendera, kibarannya bergerak semakin kencang. Jelas kita berhadapan dengan dua kenyataan: semakin luas perkembangan semakin luas fitnah dan tantangan. Kita bisa menetapkan dua peran dalam hal ini, menjadi pengamat yang suka berkomentar atau pelaku yang produktif memberikan kontribusi.
Pertanyaan paling tepat bagi aktivis dakwah terhadap kondisi yang dihadapi saat ini bukanlah “siapakah yang telah berprestasi sehingga gerakan dakwah berkembang hari ini?”, melainkan, “siapakah yang bertanggung jawab atas perkembangan dakwah saat ini dan di masa depan?”. Dua pertanyaan tersebut menggambarkan persepsi kita dalam memandang diri. Ketika gerakan dakwah ini kita pandang sebagai kebutuhan, maka sepesat apapun perkembangan yang dicapai tidak membuat kita menuntut ‘penghargaan’. Karena yang mesti kita adalah fokuskan adalah bagaimana beramal menjawab tuntutan atas perkembangan tersebut.
Mari petakan diri, berada pada persepsi seperti apakah diri kita? Inilah saatnya kita diuji dalam memaknai pemahaman amal jama’i, ya kerja kolektif kita. Kenyataan menyuguhkan bahwa agenda gerakan dakwah dari waktu ke waktu berkembang berkali lipat. Akan tetapi faktor manusiawi seringkali menjadi jalan masuk syetan melemahkan kita. Ter­utama saat kita melihat aktivis berubah gaya dan penampilan karena amanah barunya. Kita kemudian mem­bangun pamrih dengan menghitung prestasi.
Untuk siapapun yang masih terjebak dalam kungkungan fitnah itu, ”berhenti­lah dari kungkungan itu, inilah saatnya membuk­tikan semua komitmen dan pemahaman. Ingatlah, semakin tinggi ke­dudukan, semakin kencang angin menerpa. Sadarilah bahwa dalam perkembangan dakwah saat ini, semua level mengalami tekanan ‘angin’ yang sama kualitasnya, dalam bentuknya masing-masing”. Jangan pernah berhitung secara matematis terhadap amanah yang Allah tetapkan buat kita. Komentar,“antum sih enak, setidaknya amanah antum seka­ligus menyelesaikan masalah keluarga antum. Lha ana gimana…” bukanlah komentar yang tepat. Kita harus menyegarkan pemahaman kita tentang tanggung jawab amal. Tidak ada amanah yang enak dan tidak enak. Amanah datang untuk kita tunaikan. Sebagai apapun kita dalam gerakan dakwah ini, pada semua bagian ruangnya terdapat fitnah dan ujiannya masing-masing.
Kita tentu masih mengingat pernyataan sejati khalifah Rasulullah saw, Abu Bakar ra., ketika upacara pelantik­annya, “Ketahuilah, aku bu­kanlah orang terbaik di antara kamu, akan tetapi aku hanyalah seorang laki-laki seperti kamu, namun Allah menjadikan aku sebagai orang yang  paling berat bebannya di antara kamu.”
Perasaan ini adalah pera­saan yang hanya dimiliki oleh ‘jiwa-jiwa yang bersatu’. Ketika keistimewaan-keistimewaan amanah yang semu itu sudah tidak ada lagi, lalu digantikan oleh sifat tawadhu dan per­saudaraan (ukhuwah), maka tidak ada yang tersisa dari arti kepemimpinan kecuali tinggal bebannya yang berat. Lalu apa bedanya jenis amanah tersebut di hadapan Allah dengan apa yang saat ini menjadi tanggung jawab kita?
Ini adalah gambaran yang seharusnya membuat kita banyak merenung, tidak menambah daftar pertanggung­jawaban di hadapan Allah. Karena semakin tinggi level amanah yang kita emban, hanya akan menyisakan beban yang juga semakin berat. Jika kita bisa komitmen dengan lapang dada dan melihat saudara-saudara kita dengan perasaan cinta karena beratnya beban tersebut, maka ge­rakan dakwah ini tidak akan terbatasi oleh semua jenis penghalangan.
Tuntutan untuk mengambil peran nyata dalam gerakan dakwah adalah sebuah kemutlakan. Perputaran gerakan dakwah dengan segenap perkembangannya menyisakan tanggung jawab yang tidak ringan. Jika kita pernah mendengar atau mangga­ungkan jargon, “beralih dari medan kata-kata kepada medan amal’, maka sekaranglah saat­nya. Inilah masa aqad perda­gangan dengan Allah diikrarkan. Siapakah di antara kita yang akan menjawab seruan Allah,
“…..Maukah engkau Aku tunjukkan kepada perdagangan yang akan menyelamatkan kalian dari azab yang pedih” (Qs. as-Shof:10).
Siapakah di antara kita yang bersungguh-­sungguh menggolongkan dirinya ke dalam jaminan Allah,
“Se­sungguhnya Allah membeli diri dan harta sebagian dari golongan orang-orang yang beriman dengan bayaran surga…….” (Qs. at-Taubah: 111)?
Kita sudah lama mendis­kusikan mengenai banyak tema dan agenda gerakan dakwah ini. Kini tiba saatnya kita meng­amalkan semua pemahaman tersebut. Kini, setiap detik yang kita miliki adalah masa menerapkan semua konsep gerakan yang telah lama kita sistematiskan. Kini di hadapan kita ada hamparan ruang amal yang sangat luas. Hamparan amal tersebut membutuhkan peran kita semua. Ia membutuhkan sentuhan wama dan rasa yang kental dengan nuanasa penghambaan. Kinilah saatnya masuk ke dalam fase lanjut, tentu tanpa melupakan agenda fase sebelum-sebelumnya. Ini semua kita lakukan bukan saja karena kita menjadi bagian dari gerakan dakwah Islam ini, tapi juga sebagai rasa syukur kepada Allah SWT; karena ternyata Ia masih mem­beri kita kesempatan untuk hadir dalam jaman kemudahan ini. Untuk itu, kita mesti menebus kesyukuran tersebut dengan berpacu dalam amal gerakan dakwah secara tuntas.
Saat ini mari meneropong bagian-bagian yang kemarin telah habis-habisan kita gunakan dalam ekspansi gerakan. Bagian­-bagian tersebutlah yang perlu mendapatkan perhatian kreatif dari semua yang mengaku aktivis gerakan dakwah, baik secara perorangan maupun secara kolektif. Dalam pemaparan awal sudah digambarkan tentang ‘kecemburuan’ yang terjadi di kalangan aktivis dakwah. Persepsi yang salah terhadap amanah lahir dari pergeseran orientasi hidup (ittijah) kepada materi atau urusan-urusan duniawi. Ini berdampak pada melemahnya keyakinan akan rezki Allah. Sebagaimana kita ketahui, sepuluh tahun terakhir, semua potensi kita kerahkan untuk meretas jalan gerakan, bahkan juga mulai ekspansi: sebuah penyikapan turunan sebagai gerakan amal. Sampai-sampai ‘over load’, kemudian perlahan muncul dampak melemahnya ittijah(orientasi hidup). Akibatnya keterikatan terhadap agenda gerakan melemah karena sebagian aktivis disibuk­kan urusan ma’isyah (mata pencarihan).
Pergerakan yang intens menuntut penggunaan energi yang tidak sedikit. Aktivis dakwah terlihat berkibar di mana-mana, akan tetapi satu fenomena umum yang menyer­tainya adalah melemahnya amaliah ubudiyah yaumiyah (amal-amal ibadah harian). Banyak aktivis yang kemudian menyelesaikan amal ibadah hariannya pada level yang pas-pasan. Agenda-agenda peningkatan ruhiyah yang disediakan sebagai backup tidak populer di mata para aktivis, selain energi yang ada memang sudah terserap habis. Akhirnya semangat pencapaian muwashafat (target kualitas), seperti yang pernah bergaung keras, mengalami penurunan. Lalu, apalagi yang membuat kita bertahan menghadapi fitnah dan mihnah jika ibadah kita menjadi hal yang harus dikoreksi?
Satu gambaran yang juga laten dalam gerakan ini adalah cara pandang terhadap pembinaan diri. Di beberapa tempat, akti­vitas yang menuntut waktu dan perhatian seringkali mengalah­kan agenda-agenda pembinaan diri. Ada yang izin pertemuan karena amanah di tempat tertentu. Ada yang terlantar karena pembina dan pengelolanya sibuk dengan agendanya masing-masing. Dan semua ini menyebabkan banyak aktivis karbitan. Profil dan style kader sudah sedemikian rapuhnya, akan tetapi lemah dalam penguasaanmanhaj gerakan. Inilah kelemahan substansial bagi aktivis. Dampaknya mengancam kelangsungan proses membina dan dibina. Kelemahan-kelemahan tersebut bahkan membuat sebagian aktivis tidak berani menjadi pengelola dan pembina generasi penerusnya. Bahkan bisa menghasilkan perasaan minder yang membuat aktivis madek dalam mengikuti agenda pengkaderan. Fenomena terakhir ini mudah-mudahan sekedar rumor, akibat fatalnya ada kader yang meminta turun jenjang.
Kita juga harus menyikapi pergeseran dalam adab-adab berpakaian dan berbicara aktivis. Perluasan ruang gerakan dakwah berdampak langsung terhadap kulturasi dan infiltrasi nilai dan budaya. Ragam style masuk dan berhimpun dalam ruang gerakan hampir dari semua lapisan. Maka kualitas khuluqiyah menjadi target utama yang harus dipe­lihara. Kasus-kasus di lapangan pada gaya dan prilaku aktivis menjadi agenda yang menuntut penyikapan. Problem lama tentang pencairan hubungan aktivis (ikhwan-akhwat), saat ini seolah menemukan momentum untuk semakin menyeruak. Bahkan ada kesan melemahnya sikap menghormati dan menghargai qiyadah. Hal ini mesti dievaluasi secara tuntas oleh setiap aktivis dakwah. Karena, jika ekspansi gerakan tidak mampu mempertahankan ‘ciri khas’ gerakannya, maka terlalu mahal biaya yang kita keluarkan.
Mudah-mudahan ini sekedar gambaran siklus normal, yang membutuhkan ‘istirahat seje­nak’ setelah ekspansi besar-besaran. Akan tetapi jika keadaan ini tidak segera disikapi, khawatir akan muncul aktivis yang kebablasan, bahkan bukan tidak mungkin akan ada aktivis yang minta cuti dari gerakan dakwah ini. Mudah-mudahan kita semua mampu melampaui itu semua, sebagai kenyataan yang tak perlu diulang, semoga!
Untuk Kita Renungkan
Kenyataan di depan mata cukup gamblang menggambar­kannya. Sudah tidak cukup lagi bagi kita meringankan permasalahan masyarakat dengan bahasa­-bahasa normatif. Ketika mereka mengalami masalah keluarga, bukan pernyataan sabar yang ingin didengar dari kita, melainkan apa bentuk konkrit yang bisa meringankan masalah tersebut.
Inilah tantangan gerakan yang harus dijawab. Bagi aktivis dakwah yang selalu kehabisan motovasi dan rentan kefuturan, bangkitlah! Inilah tanggung jawab yang menuntut banyak kreativitas dan kecerdasan. Inilah ruang kerja yang tidak pernah mengenal kata selesai. Lakukanlah apa yang bisa kita sumbangkan untuk mengisi ruang besar gerakan dakwah ini. Jangan pernah menganggap kecil, sekecil apapun sumbang­sih kita dalam dakwah ini. Sesunggunnya Allah SWT. tidak mengukur pada besar kecilnya amal, melainkan ikhlas dan sempurnanya kita menyele­saikannya.
Medan perjuangan adalah wilayah panjang tanpa akhir, kecuali berujung pada titik kemenangan atau kematian. Medan perjuangan adalah jalan penuh rintangan dan berhiaskan duri juga ujian. Arena panjang yang penuh ujian bukanlah tempat bagi para pencari pengalaman atau bahkan sekedar mengisi waktu luang. Di sini diperlukan para pejuang yang seluruh hidupnya demi agenda perjuangan. Karena kenyataannya, terkadang medan perjuangan dijadikan sebagai tempat mencari keuntungan, kepopuleran dan bahkan uang demi kelangsungan kehidupan. Semakin hari kemenangan perjuangan mulai tampak ke permukaan, segala perih perjuangan akan segera terbayarkan, di saat itulah banyak ujian kesenangan yang akan melalaikan para pejuang ’setengah hati’ seperti peristiwa Perang Uhud yang pada mulanya memperoleh kemenangan.
Saat ini kuncup kemenangan mulai mengembang, geliat gerakanpun mulai menampakkan taringnya. Namun, sesuatu yang terkadang membuat hati tak tenang adalah ketika ada yang terlenakan dengan dinamika kemenangan. Kalaulah yang dilupakan adalah masalah-masalah keduniawian itulah sebuah keharusan. Tapi pada realitanya terkadang kuantitas dan kualitas ibadahpun sudah menjadi agenda yang dilupakan. Semuanya dilakukan karena alasan: ’gerakan sudah tidak menghadapi tantangan yang membahayakan’. Mungkin saat ini strategi ’musuh’ telah pandai, mencuri pelajaran dari peristiwa Uhud yang boleh jadi sering dilupakan para pejuang. Boleh jadi mereka berhasil menghalau para pejuang kemenangan dengan menitipkan pemahaman baru: riya’ dan kesombongan.
Saat ini, kemenangan memang sudah menjadi kenyataan dan nampak dipermukaan bahkan di depan mata siapapun yang menganggapnya sebagai sebuah tantangan. Namun, jangan terlalu sering mengucapkan kemenangan selama masih banyak manusia yang jauh dengan pemilik dan yang memberikan kemenangan: Allah SWT. Karena cita-cita kita bukanlah bagaimana menikmati kekuasaan, tapi bagaimana nilai-nilai kalimat syahadat menjadi aqidah semua manusia, sehingga kita memperoleh ujung perjuangan, yaitu kesyahidan.
Penutup
“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.
Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.
Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.”
Ya Allah, sesungguhnya Engkau tahu bahwa di tiap tepi waktu, terlampau banyak ajakan untuk meninggalkan jalan hidup Rasul-Mu. Dan di beberapa tepian waktu itu kami berharap tetap istiqomah. Ya Allah, kami mohon jaga harapan itu sampai akhir hayat kami. Karena tak sedikit yang kehilangan sekedar rasa ‘ingin’ untuk istiqomah. Ya Allah, kuatkankanlah barisan kami, umatmu! []
Sumber :
http://intimagazine.wordpress.com/2010/05/09/bangkit-tuntaskan-agenda-perubahan/

6/11/2011 | Posted in , , , | Read More »

Blog Archive

Labels

Recently Commented

Recently Added

Popular Posts