PEMIRA, Cara PKS Jaring Capres 2014


dakwatuna.com – Pontianak. Sekretaris Umum Dewan Pengurus Wilayah Partai Keadilan Sejahtera Kalimantan Barat mengatakan Pemilihan Raya (Pemira) yang digelar PKS di seluruh Indonesia pada 29-30 November 2013, berbeda dengan konvensi calon presiden yang diadakan partai lain.
“Pemira berbeda dengan konvensi capres seperti di partai lain. Kalau dalam konvensi yang berkompetisi adalah elit, maka Pemira justru kebalikannya,” kata Sekretaris Umum DPW PKS Kalbar, Arif Joni Parsetyo di Pontianak, Sabtu.
Ia mengatakan, sistem dalam Pemira memberikan kesempatan kepada kader yang memiliki dinamika sendiri untuk menentukan siapa figur pimpinan partai yang layak dipilih menjadi bakal calon presiden.
Saat ini, diakuinya ada tuntutan yang sangat kuat dari kalangan “akar rumput” PKS, khususnya para kader untuk segera menetapkan capres sebelum pemilihan umum legislatif. PKS mengakomodasi tuntutan dari para kader “akar rumput” itu untuk menentukan capres, tetapi bukan dalam bentuk konvensi sebagaimana parpol lain, melainkan melalui Pemira.
“Kalau dalam Pemira, dari para kandidatnya sendiri tidak ada kampanye di dalam. Jadi, jelas bedanya dengan konvensi,” kata Arif Joni yang juga menjadi penanggung jawab pelaksanaan Pemira PKS di Kalbar.
Pemira dilaksanakan serentak di seluruh Indonesia pada 29-30 November. Untuk Kalimantan Barat diadakan di seluruh wilayah, setiap kabupaten/kota menyediakan beberapa tempat pemungutan suara (TPS).
Sedangkan di Kota Pontianak terdapat 30 TPS. TPS utama terletak di kantor DPW Jalan Danau Sentarum. Pemira diikuti sekitar 5.000 lebih kader yang ada di Kalbar. Setiap kader nantinya memilih lima capres dari 22 kandidat yang ada.
Lima capres yang memperoleh dukungan paling kuat, nantinya akan diserahkan kepada Majelis Syuro untuk dipilih salah satu dan diusung untuk bersaing pada Pemilu 2014.
“Jadi dalam Pemira PKS, para peserta tidak bertarung tetapi kader yang menentukan siapa sosok yang paling layak menjadi bakal capres dari partai kita,” ujar Arif Joni.
Sementara sebelumnya, Presiden PKS Anis Matta mengatakan pelaksanaan Pemira perwujudan aspirasi kader untuk penentuan bakal calon presiden yang hendaknya dilakukan lebih cepat dan tidak menunggu hasil dari Pemilu Legislatif pada April 2014.
Para kader juga menyampaikan aspirasi untuk melihat performa partai secara keseluruhan terutama setelah mendeklarasikan bakal calon presiden. “Ini hanya tuntutan kader, ada pertanyaan masyarakat, kenapa belum ada bakal capres dari PKS,” ujarnya.
Anis tidak sependapat jika Pemira ini diselenggarakan untuk mendongkrak elektabilitas partai, yang berdasarkan survei-survei beberapa waktu belakangan, selalu berada dalam papan tengah dan cenderung stagnan.
Menurut Anis, peserta Pemira sudah memiliki ketokohan yang kuat di partai maupun di luar partai, sehingga popularitas dan elektabilitas partai tentu otomatis akan meningkat.
Pemira sebelumnya hanya digunakan PKS untuk memilih anggota Dewan Syuro. Kini, untuk pertama kalinya, PKS akan menggunakan Pemira untuk menentukan bakal calon presiden.
Anis Matta dijadwalkan akan menggunakan hak suaranya dalam Pemira PKS di TPS yang berada di DPW PKS Kalbar, Jalan Danau Sentarum, Sabtu (30/11), pukul 16.00 WIB. “Beliau ada kegiatan di Pontianak jadi sekalian menyoblos di TPS di Kalbar,” kata Arif Joni Prasetyo. (rol/sbb/dakwatuna)

11/30/2013 | Posted in , , , | Read More »

Khutbah Jumat : Fenomena Dakwah, antara Peluang dan Tantangan


Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ نَبِيَّهُ مُحَمَّدًا بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ. وَبَعَثَهُ لِيُتّمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ. وَيَسْتَأْصِلَ مِنْ عِبَادِهِ الْفُسُوْقِ وَالنِّفَاقِ.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ إِلَى جَمِيْعِ الْأَنْحَاءِ وَالْآفَاقِ.
اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ صَلَاةً وَّسَلَامًا وَبَرَكَةً إِلَى يَوْمِ التَّلَاقِ.
أَمَّا بَعْدُ : فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ ! اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
Kaum Muslimin Jamaah Shalat Jumat yang dirahmati Allah
dakwatuna.com - Di tengah kehidupan yang senantiasa bergulir, jumat demi jumat berlalu, seiring itu juga khutbah demi khutbah kita perdengarkan dan menyirami sejenak hati yang penuh ketundukan dan mengharapkan keridhaan Allah. Kesadaran kemudian muncul dengan tekad untuk menjadi hamba Allah yang taat. Namun kadangkala dengan rutinitas yang kembali mengisi hari-hari kita, kesadaran itu kembali tumpul bahkan luntur. Oleh sebab itulah melalui mimbar jumat ini khatib kembali mengajak marilah kita berupaya secara sungguh-sungguh memperbaharui keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah, memperbaharui kembali komitmen kita kepada Allah yang sering kita ulang-ulang namun jarang diresapi, sebuah komitmen yang mestinya menyertai setiap langkah kita:
إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ
Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah termasuk orang-orang yang menyerahkan diri.
Jamaah Jum’at Rahimakumullah,
Permasalahan Umat saat ini, jika kita pikirkan dengan seksama tidak pernah kunjung habis. Bertubi-tubi tiap hari tiap waktu timbul permasalahan baru. Permasalahan satu belum selesai sudah muncul permasalahan baru yang menutupi. Sungguh miris ketika kita renungkan kembali, karena bangsa yang sangat terkenal dengan jumlah penduduknya yang mayoritas muslim ini tidak bisa menyelesaikan permasalahan bangsa yang ada, Pribadi-pribadi muslim itu bak buih yang mengambang, tiada jelas arah dan tujuan, dan cenderung mengikuti arus zaman saat ini. Pribadi-pribadi itu tidak bisa membawa perbaikan dan perubahan ke hal yang positif buat kehidupan masyarakat kini. Jangankan masyarakat, di antara mereka ada yang tidak membawa kehidupan pribadi mereka menuju hal-hal yang baik. Seperti inikah kondisi negara muslim terbesar di dunia? Apa yang membuat hal ini bisa terjadi?
Fakta yang terjadi yang membuat kondisi umat ini semakin terpuruk dihimpit permasalahan adalah terdapat kelemahan-kelemahan pada individu-individu muslimnya. Mulai dari permasalahan aqidah, ibadah hingga dakwah.
Coba kita lihat sebagian besar muslim di Indonesia hanyalah muslim keturunan dan tidak memahami esensi dari menjadi seorang muslim itu sendiri, sehingga wajar jika nantinya banyak ditemukan orang-orang yang mengaku muslim tetapi memiliki konsep aqidah yang salah.
Lalu tidak hanya sebatas itu, kondisi umat saat ini juga bisa menggambarkan tingkat pendidikan dan pengetahuan yang sangat buruk akan Islam. Tidak sedikit orang yang tidak mengerti mengenai tatacara ibadah sehari-hari umat Islam. Tidak sedikit pula yang tidak mengerti akan hukum-hukum syar’i dan muamalah yang ada di dalam Islam. Atau tidak sedikit pula yang tidak mengerti akan ilmu-ilmu dalam Islam (fiqih, tarikh, dll). Mereka semua lebih bangga ketika bisa mempelajari ilmu-ilmu dunia (yang terkadang sangat sedikit manfaatnya atau malah tidak bermanfaat sama sekali).
Selanjutnya permasalahan berlanjut pada dakwah Islam. Banyak muslim saat ini yang menganggap bahwa berdakwah dan menyampaikan tentang Islam adalah kerjaan para ustadz saja. Padahal sesungguhnya perintah berdakwah itu sama wajibnya dengan perintah shalat. Lalu kenapa kita mengingkari dan enggan untuk menyampaikan kabar tentang Islam? Malah kita sibuk dengan urusan pribadi yang hal tersebut juga bukan dalam hal meningkatkan kapasitas dan keilmuan kita. Kita lebih asyik baca KORAN daripada baca QURAN, kita lebih Update Berita daripada Update Tilawah kita, kita lebih betah berjam-jam nonton televisi daripada menghadiri majelis-majelis ilmu.
Permasalahan berlanjut pada pengorganisasian dalam dakwah. Banyak umat Islam yang masih memiliki kapasitas keislaman yang terbatas merasa superior sehingga meninggalkan jamaah dakwah. Perlu kita sadari bahwa ketika berdakwah kita tidak bisa sendirian, perlu jamaah yang berfungsi untuk nantinya mengingatkan ketika kita salah dan yang akan menguatkan ketika kita lemah. Bukankah berjamaah kita mendapatkan derajat yang lebih tinggi dari pada sendirian? Lalu apa alasan yang menyebabkan kita meninggalkan jamaah?
Jamaah Jum’at Rahimakumullah,
Seiring dengan kemajuan Teknologi informasi dan Komunikasi, fenomena selebritis dakwah juga banyak muncul di televisi. Para pengemban dakwah yang menyampaikan tausiyahnya di televisi jumlahnya semakin banyak dengan berbagai ciri khas dan gaya dakwahnya masing-masing. Sebagaimana AA Gym dengan konsep Manajemen Qalbunya, (alm)KH.Zainuddin MZ dengan Icon nya Dai Sejuta Umat, Ust Yusuf Mansur dengan Konsep Sedekahnya, (alm)Ustadz Jefri Al Bukhori atau biasa dipanggil UJE dengan gayanya ustadz gaul ala anak muda, Ustadz Solmet dengan gaya “All you ready”, Ustadz Nur Maulana dengan gaya dakwahnya yang banyak disertai humor dan dengan kata-kata andalannya “Jamaah”, Ustadz Cepot yang bergaya bak wayang golek dan dengan dialek betawinya, Mamah Dedeh dengan gayanya yang lugas dan tegas dengan sasaran jamaahnya ibu-ibu pengajian dan masih banyak lagi yang lainnya.
Munculnya para da’i tersebut seolah membuat citra Islam berubah menjadi ramah dan lebih segar. Islam menjadi tidak identik dengan terorisme atau hal menakutkan lainnya. Citra kolot dan ketinggalan zaman pun perlahan hilang ketika para dai juga mengikuti selera zaman dalam berdakwah, terutama dalam memanfaatkan kecanggihan teknologi.
Gaya bahasa Dakwah yang ringan dan komunikatif yang disampaikan lewat media televisi sungguh bisa menyedot jutaan penonton di waktu yang singkat. Itu merupakan suatu kemajuan tersendiri dalam dunia dakwah.
Tetapi ternyata muncul fenomena baru kini Kisah kehidupan para Da’i pun banyak yang diberitakan dalam gosip infotainment, menjadi ikon iklan, ikut bermain peran dalam sebuah film, bahkan gaya hidupnya pun tak sedikit yang glamour bergaya bak selebritis. Yang hidup mewah, membeli rumah, jalan-jalan di Luar negeri, dsb. Mereka seolah terlena oleh kepopulerannya.
Ketenarannya ini cukup membuat antusias masyarakat ketika beliau hadir dalam suatu majelis ilmu. Masyarakat berbondong-bondong datang ketika salah satu Ustadz yang akan mengisi Pengajian itu adalah Ustadz yang sering tampil di televisi. Seolah–olah mereka hanya memandang ketokohan da’i itu saja. Padahal dalam Islam diajarkan bahwa dalam menimba ilmu kita jangan lihat siapa yang menyampaikan tetapi apa yang disampaikan.
Yang patut dikritisi selanjutnya yakni dari segi komersial. Saat ini Dai juga merupakan sebuah profesi yang menghasilkan uang. Para Dai yang sudah terlanjur populer tidak sedikit di antaranya ketika show berdakwah tarifnya mencapai puluhan juta rupiah. Dakwah seolah diperdagangkan dengan menjual ayat Allah. Padahal prinsip dakwah yang sebenarnya adalah kesederhanaan dan tanpa pamrih.
Kemudian dari pihak Media televisi sendiri komersialitas dari sebuah acara di televisi saat ini sudah tidak diragukan lagi. Da’i yang tampil di televisi seolah hanya mengikuti dan memenuhi kebutuhan pasar. Ketika penampilannya cukup menarik audiens dan laris di pasar, maka rating program acara itu akan naik. Dengan begitu pihak manajemen program acara itu akan terus menampilkan hal yang serupa. Da’i dituntut menyesuaikan pasar agar rating program acara itu terus naik. Dengan demikian khalayak seperti dieksploitasi dan respons kesenangannya diburu lantaran perolehan komersial.
Padahal yang juga penting dalam dakwah itu adalah konten isinya (materi dakwah). Masyarakat senang ketika para ustadz gaya ceramahnya aksi panggungnya menarik, penampilannya meyakinkan. Akan tetapi kualitas kontennya ini yang esensi dari sebuah dakwah.
Jamaah Jum’at Rahimakumullah,
Sejarah telah diwarnai, dipenuhi dan diperkaya oleh orang-orang yang sungguh-sungguh. Bukan oleh orang-orang yang santai, berleha-leha dan berangan-angan. Dunia diisi dan dimenangkan oleh orang-orang yang merealisir cita-cita, harapan dan angan-angan mereka dengan jiddiyyah (kesungguh-sungguhan) dan kekuatan tekad.
Dakwah berkembang di tangan orang-orang yang memiliki militansi, semangat juang yang tak pernah pudar. Ajaran yang mereka bawa bertahan melebihi usia mereka. Boleh jadi usia para mujahid pembawa misi dakwah tersebut tidak panjang, tetapi cita-cita, semangat dan ajaran yang mereka bawa tetap hidup sepeninggal mereka.
Apa artinya usia panjang namun tanpa isi, sehingga boleh jadi biografi kita kelak hanya berupa 3 baris kata yang dipahatkan di nisan kita: “Si Fulan lahir tanggal sekian-sekian, wafat tanggal sekian-sekian”.
Hendaknya kita melihat bagaimana kisah kehidupan Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Usia mereka hanya sekitar 60-an tahun. Satu rentang usia yang tidak terlalu panjang, namun sejarah mereka seakan tidak pernah habis-habisnya dikaji dari berbagai segi dan sudut pandang. Misalnya dari segi strategi militernya, dari visi kenegarawanannya, dan lain sebagainya.
Jamaah Jum’at Rahimakumullah,
Sesungguhnya Dakwah (dalam pengertian ini adalah seruan kepada jalan Allah), baik pada masa lalu, saat ini dan yang akan datang tetap merupakan pekerjaan yang harus dilaksanakan bagi setiap mukmin sejati. Dakwah juga merupakan misi utama bagi mereka yang menginginkan tercerahkannya umat Nabi Muhammad SAW. Pada prinsipnya dakwah merupakan kewajiban bagi setiap individu muslim, dan harus dilaksanakan oleh setiap insan yang telah mengikrarkan dirinya untuk tunduk dan patuh pada Islam, sebagai ajaran yang benar.
Dakwah atau berdakwah memiliki cakupan yang amat luas dalam konteks ‘Amar Ma’ruf Nahi Mungkar’. Tentu saja selain hubungannya dengan Allah Swt, dakwah juga berhubungan erat dengan sisi kemanusiaan.
Sebagai Khairu Umat, setiap manusia muslim terikat oleh komitmen kemusliman yang salah satunya ialah menyoal konsistensi sikap kemusliman terhadap janji yang telah diikrarkan dan dipersaksikan oleh Allah SWT, di mana yang terpenting adalah memelihara Agama Allah di atas muka bumi ini.
Dakwah merupakan upaya (proses) mewujudkan tatanan kehidupan yang Islami, memfungsikan Al-Quran dalam kehidupan secara optimal, atau dengan menafsir surat al-An’am 153, dakwah itu adalah menciptakan kehidupan (al-Hayat fi Zhilalil Quran). Dengan demikian jelaslah bahwa dakwah merupakan peran yang harus dimainkan manusia muslim dalam menghantarkan manusia kepada tatanan hidup yang Qurani.
Agar lebih memaksimalkan ketercapaian misi dakwah ini, maka setiap orang haruslah memahami akan dakwah itu sendiri, baik dari segi materi, metode dan strateginya, begitu juga sangatlah penting untuk mengetahui akan sejarah dakwah dari masa para nabi dan Rasul serta dakwah pada era globalisasi saat ini.
Jamaah Jum’at Rahimakumullah,
Tercatat dalam sejarah bagaimana usaha Nabi Nuh mengajak Kaumnya untuk menyembah Allah SWT. Bahkan risalah dakwah Nabi Nuh merupakan Risalah dakwah terpanjang dalam sejarah dan sungguh dramatis. Bagaimana tidak, usia dakwah yang begitu panjang tidak dibarengi dengan keberhasilan mengajak umatnya untuk menempuh jalan yang lurus. Alih-alih mempunyai pengikut yang berlimpah, namun hanya segelintir orang yang tersadar dan akhirnya ikut kepada seruan nabi Nuh.
Nabi Nuh menyampaikan Risalah Siang Malam kepada kaumnya dan khususnya keluarganya sendiri. Namun karena kesombongan yang dimiliki oleh istri dan anaknya, mereka akhirnya termasuk ke dalam orang-orang yang terkena azab. Bahkan Penolakan pun datang dari umat yang diserunya. Setiap Nabi Nuh menyeru mereka untuk beriman kepada Allah mereka memasukkan Jarinya ke telinganya dan menutupkan bajunya ke wajahnya sebagai tanda pengingkaran mereka akan dakwah Nabi Nuh dan Sifat Sombong mereka. Namun Nabi Nuh yang dikenal sebagai pribadi yang lembut, visioner, argumentatif, santun dan cerdas tetap bersabar dalam menghadapi rintangan dan tantangan dakwah ini
Perjalanan risalah nabi Nuh ini diabadikan oleh Allah SWT dalam Q.S Nuh
قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلا وَنَهَارًا (٥) فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلَّا فِرَارًا (٦) وَإِنِّي كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوا أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَأَصَرُّوا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًا (٧) ثُمَّ إِنِّي دَعَوْتُهُمْ جِهَارًا (٨) ثُمَّ إِنِّي أَعْلَنْتُ لَهُمْ وَأَسْرَرْتُ لَهُمْ إِسْرَارًا (٩)فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (١٠)
Ibrah yang bisa dipetik dari sejarah dakwah nabi Nuh, meskipun harus susah payah menyeru umatnya, nabi Nuh tetap berdoa agar umatnya senantiasa mendapat perlindungan Allah SWT.
Islam diturunkan kepada Nabi Muhammad sebagai petunjuk untuk menyelamatkan dan membimbing manusia kepada jalan yang benar. Rasulullah beserta para sahabatnya telah memperjuangkan dinul Islam dengan harta, jiwa dan raganya. Dan setelah beliau wafat, maka tongkat estafet penyebaran Islam dilanjutkan oleh para pengikutnya yang betul-betul berislam secara benar tidak terkecuali manusia modern seperti sekarang ini. Maka Allah swt pun telah memberikan setetes harapan di pundak pejuang dakwah untuk menyebarkan agama Islam kepada mereka yang belum mengenal kebenaran yang hakiki.
Dinul Islam diturunkan kepada manusia bukan untuk memberatkan, akan tetapi demi memudahkan manusia dalam menjalani kehidupan di dunia dan akhirat kelak. Oleh karena itu, Islam harus disampaikan dengan lemah lembut agar manusia bisa menerimanya. Prinsip seperti inilah yang bersarang dalam setiap relung perjuangan bahwa Islam harus disampaikan secara lemah lembut.
Dalam Al-Qur’an surah Ali Imran ayat 110 Allah swt berfirman,
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِاْلمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ (آل عمران : 110)
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah”.
Oleh sebab itu, seseorang yang mengaku pejuang dakwah harus berinteraksi kepada masyarakat awam maupun yang mengaku terpelajar dengan penuh kemahalembutan dan tentunya perbuatannya harus sesuai dengan apa yang diucapkannya.
Aktivis dakwah dari zaman ke zaman tentunya mengalami permasalahan yang berbeda, akan tetapi konteks dakwah tidak mengalami perubahan yakni mencegah perbuatan keji dan mungkar serta menegakkan kebenaran di bumi Allah swt.
Perkembangan teknologi dan gadget mengharuskan pejuang dakwah tidak boleh gaptek karena akan menyebabkan penyebaran dakwah kurang lancar. Sebab tantangan akan semakin kompleks dari hari ke hari dan menuntut kita semakin kreatif dalam berdakwah.
Pejuang dakwah harus tetap harus selalu berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan hadits nabi Muhammad saw jika terjadi perselisihan pendapat. Karena perbedaan pendapat merupakan rahmat apabila dicermati secara arif dan bijaksana.
Jamaah Jum’at Rahimakumullah,
Islam sebagai agama yang kaafah dan syumul juga sangat memperhatikan konsep dan nilai dalam berkomunikasi. Sebab, dakwah Islam sendiri berpadu padan dengan komunikasi atau boleh dibilang dakwah itu salah satu bentuk komunikasi.
Sementara itu, komunikasi memiliki seni tersendiri agar suatu informasi dapat diterima dengan baik, benar, dan tepat kepada komunikan. Sehingga, tidak keliru dalam memahami informasi yang dimaksud serta tidak salah memahami keinginan sang pemberi informasi tersebut.
Dalam sejarah dakwah Islam, Rasulullah SAW juga sangat memperhatikan metode dakwah agar pesan dakwah dapat diterima dengan baik bagi mad’u (yang didakwahi).
Hal itu dapat dilihat ketika Rasulullah saw melaksanakan wahyu Allah Ta’ala untuk mentauhidkan aqidah umat yang keliru dengan menuhankan banyak Illah dan membersihkan peribadahan dari segala bentuk kesyirikan. Beliau secara khusus memiliki sebuah tugas mulia dengan jalan mendakwahkan dien Islam ini kepada umat melalui metode yang haq yaitu berupa cara-cara yang sesuai dengan petunjuk Allah Ta’ala. Di antara metode dakwah beliau saw adalah: Bil hikmah wal mau’izhah
Allah Ta’ala berfirman:
اُدْعُ إِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِاْلمُهْتَدِيْنِ
Artinya, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. an-Nahl, 16:125)
Hikmah ialah perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil. Oleh sebab itulah Allah Ta’ala meletakkan al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai asas pedoman dakwah bagi Rasulullah dan juga bagi tiap umat yang bertugas meneruskan dakwah beliau hingga akhir zaman.
Jamaah Jum’at Rahimakumullah,
Ternyata usia tak selalu berbanding lurus dengan kedewasaan. Umur boleh jadi dewasa tapi kadang Bersikap seperti anak-anak padahal beban dakwah semakin banyak. Umat ini sedang butuh kontribusi kita, jangan tambah lagi masalah umat dengan kemanjaan. Ingat, Komitmen kita di jalan dakwah ini akan Allah bayar, jauh lebih mahal dari materi yang selama ini kita kejar. Jadi jangan beralasan meninggalkannya hanya karena disibukkan dengan permasalahan-permasalahan pribadi. Surga itu amat mahal takkan dapat dicapai dengan upaya seadanya saja. Buanglah sifat manja, buktikan bahwa kita kader-kader dakwah yang siap bekerja untuk umat dan bangsa.
Sebagaimana Konsep Dakwah yang diajarkan Rasulullah SAW, BERTUJUAN untuk…
Mengajak … bukan … mengejek
Mengajar … bukan … meng-hajar
Membina … bukan … menghina
Menasihati … bukan … menusuk hati
DAKWAH akan LANCAR dengan…
Menabur kasih … bukan … menguburnya
Menggalang kekuatan … bukan … menggulungnya
Menerangi kebenaran … bukan … memeranginya
Menjaga hak saudara … bukan … menjegalnya
Dakwah, SEHARUSNYA bisa…
Membimbing … bukan … membimbangkan
Memajukan … bukan … memojokkan
Menganjurkan … bukan … menghancurkan
Menyadarkan … bukan … menidurkan
DAKWAH akan lebih BERKUALITAS dengan…
Tabah hadapi cobaan … bukan … tambah minta pujian
Sabar lewati rintangan … bukan… gusar hadapi tantangan
Mewujudkan amalan nyata … bukan … mengumbar kata kata
Menuntun madu kita … bukan … menonton mereka
DakWah, TERASA INDAH bila untuk…
Saling memberi … bukan … saling meng-iri
Menyemangati … bukan … menyengat-mati
Mencipta rasa damai … bukan … membuat massa ramai
DAKWAH, terasa MANIS dengan…
Menebar senyum manis … bukan … mengumbar wajah sinis
Berakhlak halus … bukan … berakal bulus
Berniat tulus … bukan … berminat fulus
DAKWAH, itu UPAYA untuk…
Mempertahankan aqidah … bukan … mempertuhankan kabilah
Menghidupkan sunnah … bukan … meredupkannya dengan bid’ah
Menjadikan orang patuh … bukan … membuatnya jatuh
Membuat umat sembuh … bukan … menjadikannya kumat & kambuh
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمُ
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِتِّحَادِ وَاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاُه نَسْتَعِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
عِبَادَ الله، اِتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَقَرَابَتِهِ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّاتِهِ أَجْمَعِيْنَ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ.
اَللَّهُمَّ لاَ تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا إِلاَّ غَفَرْتَهُ وَلاَ هَمًّا إِلاَّ فَرَّجْتَهُ وَلاَ دَيْنًا إِلاَّ قَضَيْتَهُ وَلاَ حَاجَةً مِنْ حَوَائِجِ الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ إِلاَّ قَضَيْتَهَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ.
 اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ جَمِيْعَ وُلاَةَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَانْصُرِ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
 رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ. أَقِيْمُوْا الصَّلَاةَ…..

11/30/2013 | Posted in , , | Read More »

Mensos Salim Segaf : 35 ribu KK pemukiman kumuh DKI akan direlokasi agar hidup lebih layak

Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri mengatakan, penataan wilayah kumuh yang akan dilakukan pemerintah merupakan upaya memanusiakan kembali warga dengan tinggal di tempat yang lebih layak.

"Itu pekerjaan yang luar biasa, hampir 35 ribu KK yang akan direlokasi, ini artinya memanusiakan mereka sebab tidak lagi tinggal di rumah di pinggir kali, sungai juga akan semakin bagus," kata Mensos di Jakarta, Jumat (19/2).

Menurut dia, sosialisasi terhadap masyarakat mulai dilakukan dan diharapkan mereka akan pindah dengan sendirinya dari wilayah kumuh ke rumah susun yang akan disiapkan pemerintah.

"Saya pikir mereka akan melihat mana yang terbaik, sebab tinggal di pinggir sungai dalam kekumuhan bukan yang pilihan terbaik," tambahnya.

Sebanyak 14.075 Kepala Keluarga (KK) yang tinggal di permukiman kumuh di kawasan DAS Ciliwung, Jakarta akan dipindahkan (relokasi) ke rumah susun sederhana sewa (rusunawa) dalam upaya penanganan masalah penataan perkotaan.

Kegiatan tersebut berada di bawah koordinasi Kementerian Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat yang bermaksud menata DAS Ciliwung, dan saat ini masih dalam proses perumusan rencana penanganannya.

Program penataan direncanakan akan berlangsung selama tiga tahun, dan diharapkan Kementerian Perumahan Rakyat dapat membangun 29 menara rusunawa yang mampu menampung 34.051 KK penduduk yang selama ini menghuni DAS Ciliwung.

Pemindahan warga dari pemukiman kumuh tersebut akan berlangsung dua tahap, yaitu tahap pertama meliputi Kelurahan Manggarai sebanyak 2.390 KK, Kelurahan Bukitduri sebanyak 3.526 KK, Kelurahan Kampung Melayu sebanyak 7.233 KK, dan Kelurahan Kebon Baru sebanyak 264 KK.

Sedangkan tahap kedua meliputi Kelurahan Gedong sebanyak 387 KK dan Kelurahan Tanjung Barat sebanyak 275 KK. Dalam hal ini Kementerian Sosial akan berkontribusi dalam pendampingan sosial, penanganan kelompok rentan dan penanganan fakir miskin.

Terkait tugas Kementerian Sosial tersebut, tujuannya agar meningkatkan kesiapan warga untuk direlokasi ke rusunawa, serta nantinya dapat menciptakan perumahan dan lingkungan sosial yang sehat dan mendukung pelaksanaan peran dan fungsi kelurga serta komunitas.

Berdasarkan Data BPS hasil sensus penduduk 2011 mencatat penduduk miskin sebanyak 32,02 juta jiwa atau 13,33 persen dari total jumlah penduduk. Dari jumlah penduduk miskin tersebut sebanyak 11,05 juta jiwa berada di perkotaan dan 18,97 juta jiwa di perdesaan. [REPUBLIKA]

2/12/2012 | Posted in , , | Read More »

Gelar S2 dan S3

BAGIAN SATU: SINGKATAN

[CERITA 1] == Gelar S2 dan S3 ==

Maraknya dakwah di kota-kota besar sangat mengharukan hati. Di kampus-kampus umum, sekolah dan masjid-masjid perumahan sering diadakan kegiatan-kegiatan dakwah yang beraneka ragam. Dari mulai ceramah biasa, diskusi remaja, pemutaran film, bedah buku, bazaar sampai ke tabligh akbar, semuanya semakin menambah marak kesejukan suasana Ibukota yang sudah penuh sesak. Semua ini kemudian diikuti dengan bertambahnya kebutuhan akan juru dakwah. Tapi kita tidak perlu khawatir, karena banyak sekali aktivis dakwah kita yang masih muda, baru S-1 ataupun masih kuliah yang sudah mendapat gelar Phd dan MBA. Dan ini banyak kita temukan di kampus-kampus. Gelar Phd ini disematkan bagi mereka yang benar-benar Pakar Halaqoh dan Dauroh, sedangkan MBA untuk Murobby Banyak Akal ! Ini di bidang dakwah, kadang ada juga istilah lain yang dipakai untuk menyindir sampai dimana proses seorang ikhwan, seperti MBA dari Murobby Belum Acc , dan MBM dari Murobby Baru Mencarikan, atau kalau sudah selesai prosesnya bisa disebut MBM juga, yaitu Married By Murobby.!

Ada juga gelar yang sudah cukup masyhur di kalangan aktivis dakwah yang di peruntukkan bagi lulusan Timur Tengah ataupun LIPIA, yaitu Lc. Tapi gelar Lc ini ternyata sekarang banyak dipakai oleh para aktivis muda kita, tapi yang ini berarti Langsung Ceramah.Dan kabarnya pula Xanana Gusmao, Presiden Timor Lorosae juga punya gelar Lc juga, yaitu Lulusan Cipinang.

1/13/2012 | Posted in , , | Read More »

PKS SIAP MENANGKAN PEMILUKDA PALEMBANG 2013


SUMEKS.CO.ID-Pemilukada Palembang memang masih satu tahun lagi. namun PKS sebagai salah satu kekuatan sosial politik telah mempersiapkan diri sejak dini. ini dilakukan karena sesuai amanat Musyawarah daerah (musda) II, PKS Palembang diminta untuk berpartisipasi aktif dalam hajatan lima tahun masyarakat Palembang ini dengan memajukan kader terbaiknya sebagai salah satu calon walikota/wakil walikota.


Dalam rangka itulah, DPD PKS Palembang melaksanakan rangkaian kegiatan yang dilakukan secara berturut-turut, yaitu: (1) Rapat koordinasi antara DPD PKS palembang dengan seluruh DPC PKS Se-Palembang (2) Launching program Pos Wanita Keadilan peduli ummat (3) rapat koordinasi antara DPD PKS Palembang dengan anggota F-PKS DPRD Palembang (4) rapat koordinasi dengan para ketua group pembinaan kader bersama ust.Abu Faqih Lc dari bandung (5) studi banding DPD dan DPC PKS Palembang ke PKS Lampung dan DPD PKS Depok dan Walikota Depok, Dr Ir Nur Mahmudi Ismail MSc.

Beberapa kegiatan tersebut wujud konsolidasi serta koordinasi internal PKS Palembang untuk mengoptimalkan seluruh potensinya dan menghidupkan mesin-mesin struktur dan kadernya. Diharapkan dengan kekuatan lima ANggota DPRD Kota Palembang, Struktur DPC dan DPRa yang tersebar di 16 kecamatan dan 107 Kelurahan, Struktur Pos Wanita Keadilan disetiap Kecamatan, Jumlah Kader Militan sebanyak 5.754 orang ditambah ilmu yang didapat dari studi banding ke Lampung dan Depok menjadi Modal dasar PKS menghadapi Pemilukada Palembang 2013.

Untuk itu, PKS Mohon do'a restu dari seluruh warga Palembang agar bisa membawa Kota Palembang menjadi lebih baik sebagai Pelayan Masyarakatnya dalam Pemilukada Palembang 2013.

1/13/2012 | Posted in , , | Read More »

Pengorbanan

Seseorang disebut pahlawan karena timbangan kebaikannya jauh mengalahkan timbangan keburukannya, karena kekuatannya mengalahkan sisi kelemahannya. Jika engkau mencoba menghitung kesalahan dan kelebihannya, niscaya engkau menemui kesalahan dan kelemahannya itu "tertelan" tertelan oleh kebaikan dan kekuatnnya.

Akan tetapi, kebaikan dan kekuatan itu bukanlah untuk dirinya sendiri, melainkan merupakan rangkaian amal yang menjadi jasanya bagi kehidupan masyarakat manusia. Itulah sebabnya tidak semua orang baik dan kuat menjadi pahlawan yang dikenang dalam ingatan kolektif masyarakat atau apa yang kita sebut sejarah. Hanya apabila kebaikan dan kekuatan menjelma jadi matahari yang menerangi kehidupan, atau purnama yang merubah malam jadi indah, atau mata air yang menghilangkan dahaga.

Nilai sosial setiap kita terletak pada apa yang kita berikan kepada masyarakat, atau pada kadar manfaat yang dirasakan masyarakat dari keseluruhan performance kepribadian kita. Maka, Rasulullah saw berkata, "Sebak-baik manusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain."

Demikianlah, kita menobatkan seseorang menjadi pahlawan karena ada begitu banyak hal yang telah ia berikan kepada masyarakat. Maka, takdir seorang pahlawan adalah bahwa ia tidak pernah hidup dan berpikir dalam lingkup dirinya sendiri. Ia telah melampaui batas-batas kebutuhan psikologis dan biologisnya. Batas-batas kebutuhan itu bahkan telah hilang dan lebur dalam batas kebutuhan kolektif masyarakatnya dimana segenap pikiran dan jiwanya tercurahkan.

Dalam makna inilah pengorbanan menemukan dirinya sebagai kata kunci kepahlawanan seseorang. Di sini ia betemu dengan pertanggungjawaban, keberanian, dan kesabaran. Tiga hal terakhir ini adalah wadah-wadah kepribadian yang hanya akan menemukan makna dan fungsi kepahlawanannya apabila ada pengorbanan yang mengisi dan menggerakkannya. Pengorbananlah yang memberi arti dan fungsi kepahlawanan bagi sifat-sifat pertanggungjawaban, keberanian dan kesabaran.

Maka, keempat makna dan sifat ini: rasa tanggungjawab keagamaan, semangat pengorbanan, keberanian jiwa, dan kesabaran, adalah rangkaian dasar yang seluruhnya terkandung dalam ayat-ayat jihad. Dorongannya adalah tanggung jawab keagamaan (semacam semangat penyebaran dan pembelaan). Hakikat dan tabiatnya adalah pengorbanan. Perisainya keberanian jiwa. Namun, nafas panjangnya adalah kesabaran.

Maka, benarlah apa yang dikatakan Sayyid Qutb, "Orang yang hidup bagi dirinya sendiri akan hidup sebagai orang kerdil dan mati sebagai orang kerdil. Akan tetapi, orang yang hidup bagi orang lain akan hidup sebagai orang besar dan mati sebagai orang besar."

Kaidah itu tidak saja berlaku bagi kehidupan individu, tetapi juga merupakan kaidah universal yang berlaku bagi komunitas manusia. Syaikh Arselan, pemikir Muslim asal Syiria, yang menulis buku Mengapa Kaum Muslimin Mundur dan Orang Barat Maju menjelaskan jawabannya dalam kalimat yang sederhana, "karena," kata Syaikh Arselan. "orang-orang barat lebih banyak berkorban daripada kaum Muslimin. Mereka memberi lebih banyak demi agama mereka ketimbang apa yang diberikan kaum Muslimin bagi agamanya".

Sekarang, mengertilah kita. Dan ketika ada pertanyaan, "Apakah yang dibutuhkan untuk menegakkan agama ini dalam realitas kehidupan?" Maka jawabnya adalah hadirnya para pahlawan sejati yang tidak lagi hidup bagi dirinya sendiri, tetapi hidup bagi orang lain dan agamanya, serta mau mengorbankan semua yang ia miliki bagi agamanya.

Anis Matta

1/09/2012 | Posted in , , | Read More »

Anis Matta Minta DPR Dukung Esemka Jadi Mobil Nasional

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Wakil Ketua DPR RI Anis Matta mengusulkan agar DPR RI mendukung mobil produksi pelajar SMK Negeri di Solo Jawa Tengah menjadi program mobil nasional (Mobnas).

"Kita perlu mengapresiasi karya anak bangsa dari SMK Negeri di Solo. Mereka telah membuktikan mampu membuat mobil yang diberi nama Kiat Esemka," kata Anis Matta di Gedung MPR/DPR/DPD RI, Jakarta, Rabu.

Menurut Anis Matta, Komisi terkait di DPR RI agar melakukan kunjungan kerja ke Solo guna mempelajari kemungkinan karya para pelajar SMK Negeri di Solo tersebut menjadi program mobil nasional.

Komisi terkait di DPR RI, kata dia, perlu mempelajari lebih dalam soal kemungkinan karya tersebut masuk dalam industri otomotif dan menjadi program mobil nasional.

"Bagaimana dukungan pemerintah dan swasta untuk menjadikan karya anak bangsa tersebut sebagai proyek nasional," katanya.

Sekretaris Jenderal Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini menjelaskan, karya para pelajar SMK Negeri 2 Solo, Jawa Tengah itu, sudah disurvei oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Namun produksi mobil Kiat Esemka tersebut, kata dia, baru beberapa unit saja sehingga belum masuk skala industri.

"DPR RI perlu mempelajari lebih dalam karya produksi mobil Kiat Esemka ini bisa masuk dalam skala industri," katanya.

Menurut dia, mobil Kiat Esemka yang harganya kurang dari Rp100 juta itu akan diminati oleh rakyat yang penghasilannya terbatas.

Masyarakat, kata dia, sudah lama merindukan adanya mobil nasional yang harganya terjangkau. "Mobil Esemka ini akan sangat membantu kebutuhan rumah tangga," katanya.

Anis mengusulkan, produksi mobil Kiat Esemka masuk dalam skala industri agar harga jualnya bisa ditekan lebih rendah sehingga bisa dijangkau lebih banyak masyarakat.

Ia menyayangkan, jika karya pelar SMK Negeri di Solo ini hanya sebatas uji coba dan tidak diproduksi dalam skala industri.

Anis juga mencontohkan, PT Dirgantara `Indonesia pernah membuat mobil tapi baru sebatas uji coba dan tidak ada lanjutannya.

"Ada juga perusahaan swasta yang pernah memproduksi mobil Timor sebagai mobil nasional, tapi kemudian gagal," katanya.

Menurut dia, semua produksi anak bangsa yang bisa masuk skala industri perlu mendapat dukungan, bukan sekadar diapresiasi.

Hasil karya anak bangsa yang telah masuk dalam skala industri, kata dia, harus masuk pasar dan bersaing bebas. "Hal ini perlu dukungan politik yang besar dari pemerintah," kata Anis.

1/09/2012 | Posted in , , | Read More »

PKS Sebut Kepalsuan Pemberantasan Korupsi Runtuhkan Citra SBY

detik.com-Sekjen DPP PKS Anis Matta menilai turunnya kepercayaan publik terhadap kinerja pemerintah SBY di bidang pemberantasan korupsi bukan tanpa alasan. Anis melihat banyak kepalsuan dalam segala hal yang terus menurunkan kepercayaan masyarakat.

"Musuh kita adalah kepalsuan, kepalsuan dalam segala hal. Menegakkan hukum tidak punya niat yang serius, menciptakan keamanan dan ketertiban tidak serius. Musuh kita adalah diri sendiri menjadi kinerja tidak bagus," terang Anis.

Hal ini disampaikan Anis kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (9/1/2012).

Karena itu, Anis mengimbau pemerintah untuk lebih jujur dan objektif dalam segala hal. " Kita harus melawan kepalsuan yang bersikap palsu dalam segala hal. Semua harus jujur," tandas wakil ketua DPR itu.

Kepercayaan publik terhadap kinerja pemerintah dalam pemberantasan korupsi di Indonesia terus merosot. Per Desember 2011, kepercayaan publik menurun menjadi 44 persen dari bulan yang sama tahun sebelumnya yang 52 persen dan Desember 2008 yang pernah tercacat 77 persen.

Demikian hasil survei nasional Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang dirilis di kantornya, Jl Lembang Terusan, Menteng, Jakpus, Minggu (8/1/2012). Survei dilakukan pada 8-17 Desember 2011 dengan 1220 sample responden usia pemilih, yang dipilih secara multistage random sampling. Diperkirakan margin error +/- 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

(van/did)

1/09/2012 | Posted in , , | Read More »

PKS Tunggu Gebrakan KPK Ungkap Ketua Besar

INILAH.COM, Jakarta - Partai Keadilan Sejahtera (PKS) berharap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menelusuri dan memanggil Ketua Besar yang disebut-sebut terlibat dalam kasus dugaan suap pembangunan wisma atlet SEA Games, Jakabaring, Palembang.

Hal tersebut disampaikan oleh Anggota Komisi III DPR dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Aboe Bakar Al Habsyi, kepada INILAH.COM, Minggu (8/1/2012). Dia berharap KPK tidak diam saja seperti saat ini, walaupun menurutnya, diamnya KPK saat ini diharapkan akan membuat gebrakan baru.

"Saya berharap, dari diamnya Abraham cs muncul kejutan-kejutan yang menggembirakan publik, misalkan pemanggilan bos besar dan ketua besar atau pemanggilan para menteri yang kementeriannya sedang bermasalah," ungkapnya.

Dia berharap waktu tiga pekan yang sudah berjalan telah dimanfaatkan dengan baik oleh Abraham cs. "Mereka harus sadar bahwa masyarakat menanti keberanian KPK, rakyat rindu dengan profil penegak hukum yang trengginas."

Menurutnya, bila sekarang Abraham tidak terlalu banyak ekspose di media, hal itu tentu bisa dipahami sebab KPK sebelumnya banyak menuai kritik akibat terlalu banyak ekspose atau mengeluarkan pernyataan ke publik.

Sikap seperti itu, tambah Aboe Bakar lebih kongkrit daripada hanya membuat ekspose di media tanpa ada sebua tindakan dan aksi yang nyata. "Dari puluhan kasus bernilai trilyunan rupiah yang diekspose, rakyat belum melihat upaya penuntasan dari kasus-kasus yang dimaksud," ujarnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, terdakwa kasus korupsi pembangunan wisma atlet di Jakabaring, Palembang, Nazaruddin sebelum sidang membenarkan jika ketua besar yang disebut-sebut dalam BAP Mindo Rosalina Manulang (Rosa), terpidana dalam kasus serupa adalah mengarah ke Ketua Banggar DPR RI. Namun dia menolak menyebut nama Ketua Banggar yang dimaksud. “Itu Rosa dan Angie (Angelina Sondakh) yang lebih tahu,” singkatnya. [mvi]

1/08/2012 | Posted in , , | Read More »

Rumah Aspirasi HNW di Solo Penyambung Lidah Rakyat

Anggota Komisi I dan Ketua Badan Kerjasama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI, Hidayat Nur Wahid menjamin, rakyat hingga lapisan bawah bisa memantau kerja wakilnya di Rumah Aspirasi.

"Dengan diresmikan Rumah Aspirasi ini, terbuka untuk siapapun. Tidak hanya untuk konstituen tertentu. Silahkan kalau mau mengecek kerja wakil-wakilnya di parlemen. Mulai tingkat kabupaten kota, propinsi dan pusat," terang anggota DPR RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu, saat meresmikan Rumah Aspirasi di di Kantor DPD PKS Surakarta Jalan Slamet Riyadi 534 B Kerten, Laweyan, Solo, Kamis (5/1).

Bangunan yang dinamakan Rumah Aspirasi Hidayat Nur Wahid (HNW) itu, lanjut Anggota Majelis Syura PKS berfungsi untuk menjembatani suara dari rakyat di lapisan bawah sekalipun dengan para wakilnya di parlemen. "Kalau adanya rumah seperti ini kan antara rakyat dan wakilnya di berbagai daerah pemilihan jadi tidak ada batas yang memisahkan. Semua bisa dikomunikasikan," ungkap dia.

Menurut Hidayat, dengan diresmikannya di Kota Solo, pihaknya berharap bisa bermanfaat untuk warga di Kota Bengawan tersebut. Pasalnya dia menekankan, rumah tersebut bukan untuk konstituen PKS saja. Namun untuk rakyat pada umumnya. "Saya tekankan lagi, ini rumah untuk rakyat secara keseluruhan. Kalau sudah jadi anggota DPR itu ya milik rakyat, bukan milik partai. Karena rakyat yang memilih. Makanya memang kami mengusahakan fasilitas seperti ini," jelasnya.

Dia melanjutkan, ditargetkan menjelang 2014, di seluruh kabupaten dan kota se-Indonesia, rumah aspirasi PKS yang mempunyai garis besar tugas kerja sebagai advokasi dan pemetaan aspirasi rakyat itu, bisa terlaksana.

"Intinya rumah aspirasi tidak menjanjikan apa-apa, tetapi komitmen pengelola untuk memperjuangan aspirasi yang ada.  Semoga menjadi penyambung lidah rakyat," pungkasnya.

1/08/2012 | Posted in , , | Read More »

Mensos Naik Ojek Saat Kunjungi Camar Bulan

Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri menggunakan ojek dari pos pemantauan, dalam kunjungan ke perbatasan Indonesia-Malaysia di Dusun Camar Bulan, Desa Temajuk, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat.
“Kalau tak ada yang ‘nyopir’ tadi, saya sopiri sendiri motornya,” katanya seperti disampaikan Tenaga Ahli Menteri Sosial bidang Tata Kelola Pemerintahan dan Kehumasan Drs Sapto Waluyo MSc saat menghubungi ANTARA dari Sambas, Kalimantan Barat, Sabtu (7/1/12) malam.
Bersama Menko Kesra, Menteri PU dan Sekretaris Badan Nasional Pengelola Perbatasan, Mensos berkunjung ke daerah perbatasan Kalbar-Serawak ditemani Gubernur Kalbar Cornelis dan Bupati Sambas Juliarti Djuhardi Alwi.
Sapto Waluyo menjelaskan, rombongan wartawan bersama gubernur Kalbar menempuh perjalanan darat Pontianak-Sambas selama empat jam, dan dilanjutkan Sambas-Temajuk selama enam jam. Sementara rombongan menteri naik helikopter.
“Kami harus menembus hutan, Alhamdulillah jalannya bagus. Tapi saat menyeberangi sungai harus menunggu saat yang pas agar tidak hanyut atau tergelincir. Minimal 12 jam perjalanan dari Pontianak ke perbatasan” kata Ria, reporter RRI seperti dikutip Sapto.
Ia menambahkan, Mensos menyatakan siap jalan bersama wartawan suatu hari untuk meninjau daerah terpencil.
“Tahun lalu (2011) saya pernah mengunjungi lokasi KAT (komunitas adat terpencil) di Dusun Sisere, di kaki gunung Toposo, Kabupaten Donggala, Sulteng. Kita naik motor ’trail’ dan jalan kaki ke lokasi,” kata Mensos.
Menurut dia, tahun 2012-2014 program Kemensos diprioritaskn untuk 50 kabupaten tertinggal, sebagian di antaranya daerah perbatasan dan terpencil.
Ia menambahkan, Menko Kesra Agung Laksono dalam kesempatan itu meluncurkn Program Pembangunan Kampung dengan dukungan kementerian teknis. Sedang Kemensos merealisasikan Program Terpadu Penanggulangan Kemiskinan (Gardu Nangkis) sesuai UU 13 tahun 2011 tentang Penanganan Fakir Miskin.
Program inisiasi di Camar Bulan antara lain pembangunan infrastruktur jalan perbatasan 14 km sudah selesai, sedangkan sepanjang 46 km sedang dalam proses, perbaikan pasar desa, rehabilitasi 100 unit RTLH (rumah tidak layak huni) senilai Rp 1 miliar). Selain itu, pemberian modal hibah untuk 100 KUBE (kelompok usaha bersama) senilau Rp 2 miliar, pelatihan tenaga kerja terampil.
“Pembangunan jalan perbatasan akan dilanjutkn BNPP dan Pemda. Sementara pembangunan perumahan didukung Kemenpera. Pemerinth serius membangun daerah perbatasan dan menyejahterakan warganya,” kata Menko Kesra, usai menyapa Nasir, salah seorang warga yg diperbaiki rumahnya.
Tercatat sebanyak 480 kepala keluarga (KK) warga Desa Temajuk (1.890 jiwa).
Bupati Sambas Juliarti Djuhardi Alwi menjelaskan bahwa mata pencaharian warga sebagai nelayan dan pekebun karet. Potensi yang belmu tergali secara massal adalah tanaman lada.
“Jika dilatih dan diberi peluang, warga kami siap membangun kampung halaman sendiri. Kami cinta negeri ini,” katanya.
Sementara Gubernur Kalbar Cornelis menegaskan agenda pembangunan daerah perbatasan bukan bersifat politis, tetapi demi menjaga keutuhan NKRI dan mewujudkan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia di manapun berada.
kompas | antaranews | fimadani

1/08/2012 | Posted in , , | Read More »

Kemenangan Dakwah Tak Ditakar dari Hasil

Oleh: Abu Maryam. al-intima.com

” الأجر يقع بمجرد الدعوة ولا يتوقف على الاستجابة “
“Pahala didapat karena melaksanakan dakwah, bukan tergantung kepada penerimaannya”
Kaidah ini meluruskan pemahaman yang sering disalahartikan oleh banyak orang, bahwa pahala haruslah berbanding lurus dengan hasil yang didapat secara zahir, sehingga penilaiannya dapat dihitung secara matematis seperti umumnya pekerjaan duniawi. Apabila cara pandang seperti ini yang dijadikan acuan, maka para nabi bisa dikatagorikan gagal dalam mengembankan amanah dakwah, karena dakwah mereka hanya menghasilkan pengikut yang jumlahnya sedikit.
Kita bisa mengambil contoh kisah Nuh As. yang mendakwahi kaumnya siang dan malam hingga memakan waktu beratus-ratus tahun lamanya. Allah Swt. berfirman dalam Al Quran: Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim. (QS. Al Ankabut: 14)
Inti dari ayat ini sebagaimana yang termaktub dalam tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa nabi Nuh As. mendakwahi kaumnya untuk beriman kepada Allah Swt. selama seribu kurang lima puluh tahun (950 tahun) lamanya, dan dalam kurun waktu itu, nabi Nuh As. hanya mendapatkan sedikit sekali pengikut, dan itu termaktub di dalam Al Quran:
“Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur telah memancarkan air, Kami berfirman: ‘Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman.’ dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit. (QS. Huud: 40)
Perhatikan akhir dari ayat di atas secara seksama, bagaimana Allah menjelaskan, “dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit” (QS. Huud: 40), kalau kemudian takaran kesuksesan dakwah diukur dari kuantitas hasil, maka pastilah Nabi Nuh telah gagal mengemban misinya, namun pada hakekatnya tidaklah demikian, karena para Nabi dan Rasul merupakan hamba pilihan yang mendapatkan tempat mulia di sisi Allah Swt.
Jumlah pengikut yang sedikit juga didapat oleh para nabi lainnya. Ketika pada hari kiamat nanti, para Nabi dan Rasul dikumpulkan dan mereka datang dengan umatnya masing-masing, dari mereka ada yang membawa satu, dua, tiga, bahkan ada yang sama sekali tidak membawa pengikut seorangpun.
Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadis. Imam Tirmidzi mentakhrij dari jalur Ibnu Abbas Semoga Allah meridhoi keduanya seraya berkata : “Tatkala Nabi diisra’kan Nabi melewati beberapa Nabi yang bersama mereka pengikut yang banyak, beberapa Nabi lainnya sedikit jumlah pengikutnya dan beberapa nabi lagi tidak mempunyai satu orang pengikutpun.”
Oleh karena itulah Allah Swt. kemudian mengarahkan kepada Rasulullah Saw. agar setelah berdakwah secara optimal, janganlah sekali-kali menakar kesuksesannya melalui jumlah yang didapat. Allah Swt. sendiri telah berfirman: “Jika mereka berpaling maka Kami tidak mengutus kamu sebagai pengawas bagi mereka. Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah). (QS.Asyu’araa’ :48)
Dan dalam ayat lainnya, Maka tidak ada kewajiban atas para rasul, selain dari menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (QS. An nahl :35)
Dan dalam ayat: “Dan tidak lain kewajiban Rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (An nur: 54)
Adapun terkait dengan hal hidayah, sesungguhnya itu semua adalah urusan Allah untuk memberikannya.
Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (QS. Al Qashash: 56)
Oleh karenanya, barang siapa yang memahami kaidah ini secara baik, maka ia akan berdakwah tanpa beban, tidak merasa kecewa ataupun stress hanya dikarenakan dakwah yang siang malam ia lakukan berakhir dengan penolakan dan jumlah pengikut yang sedikit.
Allah Swt. melalui firman-firman-Nya kerap menghibur Rasulullah Saw. dalam hal ini, karena tidaklah Allah memberi sebuah tanggungjawab, melainkan sesuai dengan kadar kemampuan yang telah Allah berikan kepada beliau. Allah Swt. berfirman:
“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya (QS. Al Baqarah: 272)
Maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. (QS. Faathir: 8)
“Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.” (QS. An Nahl : 127)
Ayat-ayat di atas menjadi hiburan tersendiri bagi Rasulullah Saw., menghilangkan kesedihannya selama ini, dikarenakan kesungguhan beliau dalam berdakwah untuk menuntun kaumnya beriman kepada Allah ditanggapi dengan sikap “buta dan tuli.”
Para da’i pada hakekatnya adalah mereka yang memiliki hati-hati yang lembut, penuh cinta, perasa sehingga itu semua menjadi tenaga bagi mereka dalam menunaikan dakwah. Ia merasa sedih ketika melihat hamba Allah yang lebih memilih berada dalam kesesatannya, mengabaikan ajakan kebaikan yang selama ini ia serukan. Kesedihan seperti ini pulalah yang dirasakan oleh Rasulullah Saw. ketika melihat kaumnya, maka Allah Swt. kemudian berfirman:
Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, Sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Quran). (QS. Al Kahfi: 6)
Dengan kata lain, ayat ini menanyakan kepada nabi Muhammad Saw., apakah dengan kehancuran kaum yang tidak mau diajak beriman itu, telah membuatnya menjadi putus asa dan merasa kasihan karena pengingkaran mereka terhadap Al Quran?
Imam Qatadah, sebagaimana yang termaktub dalam Kitab Tafsir Ibn Katsir menjelaskan ayat ini: “Seolah-olah engkau ingin bunuh diri sebagai ekspresi kemarahan dan kesedihan terhadap perilaku mereka.” Sedangkan Mujahid mengatakan, sebuah kegelisahan, dan artinya tak jauh beda yakni jangan bersedih atas mereka, namun teruslah sampaikan risalah Allah ini, barang siapa yang mendapatkan hidayah maka itu untuk dirinya, dan barang siapa yang sesat sesungguhnya ia telah menyesatkan dirinya sendiri.
Dengan demikian, sesungguhnya Allah pun telah mencabut dosa bagi para da'i apabila orang yang mereka dakwahi tidak mendapat petunjuk dan merespon dakwah yang mereka lakukan, tentunya setelah mereka berusaha dengan penuh optimal, hal itu dikarenakan Allah tidak akan memberikan beban kepada seorang hamba melainkan sesuai dengan batas kemampuan yang telah Ia berikan.
Kaidah ini juga menjadi obat bagi mereka yang tergesa-gesa memetik hasil dari dakwah yang selama ini mereka kerjakan. Yaitu mereka yang menunggu hasil yang nampak secara kasat mata duniawi, dan kemudian menjadikannya syarat dan takaran pilihan, antara melanjutkan perjuangan di jalan dakwah ini atau tidak. Cara pandang seperti ini sebenarnya cara pandang yang salah, sehingga bertolak belakang dengan kaidah dakwah yang diajarkan dalam Al Quran dan As Sunnah.
Al Quran telah menekankan, bahwa tidak ada kemestian seiringnya antara dakwah yang dijalankan dengan respon yang di dapat (Istijabah). Seorang dai, bisa saja telah berjuang mati-matian hingga titik darah penghabisan dalam berdakwah, namun sang mad'u tetap pula dengan sikap kerasnya, menolak segala bentuk ajakan kebaikan kepada dirinya. Namun demikian, pada fase seperti inilah sebenarnya akhir dari segalanya itu ditentukan. Tahapan-tahapannya dijelaskan oleh Allah Swt dalam firman-Nya:
“Sehingga apabila para Rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan mereka) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada para Rasul itu pertolongan Kami, lalu diselamatkan orang-orang yang Kami kehendaki. dan tidak dapat ditolak siksa Kami dari pada orang-orang yang berdosa. (QS. Yusuf: 110)
Fase pertama adalah pada masa dakwah itu dirasa tidak mempunyai harapan lagi untuk mengarahkan mereka kepada keimanan, sehingga mereka merasa telah didustai, maka berakhirlah fase dakwah yang kemudian ditutup dengan pertolongan dari Allah Swt. Ibnu Katsir dalam tafsirnya kemudian menjelaskan, bahwa pertolongan dari Allah akan diturunkan kepada para Rasul-Nya ketika mereka berada dalam kondisi genting dan dalam masa pengharapan akan hadirnya kemenangan, dan itu terjadi di masa yang sangat kritis. Sebagaimana diterangkan oleh Allah Swt dalam firman-Nya:
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS. Al-Baqarah : 214)
Wallahu a’lam bishowab

1/07/2012 | Posted in , , | Read More »

Doa Umar, Mana yang Kita Pilih?

dakwatuna.com - “Ya Allah, lindungilah kami dari orang-orang bertaqwa yang lemah, dan tidak bertaqwa yang lemah dan tidak berdaya, dan lindungilah kami dari orang-orang jahat yang perkasa dan tangguh.”
Terdapat tiga komponen utama di dalam bait kalimat tersebut. Pertama, perlindungan terhadap orang bertaqwa yang lemah. Kenapa kita harus memohon perlindungan dari orang bertaqwa yang lemah? Bagaimana mungkin orang bertaqwa dibilang sebagai seorang yang lemah? Secara logika, ketika orang disebut sebagai hamba yang bertaqwa maka otomatis kedekatan dirinya dengan Allah adalah hal yang menonjol. Namun ternyata, ia justru disebut sebagai orang yang lemah oleh manusia di sekelilingnya.
Lemah di sini berarti bahwa ia tidak memiliki bargaining position (nilai tawar) di dunia, di kehidupan sosial di mana dia berada. Da’i tidak lagi didengar kata-katanya, tidak lagi dicontoh keteladanannya, apalagi dihargai keberadaannya oleh masyarakat. Hal itu tidak lain adalah lantaran masyarakat tidak lagi merasakan kemanfaatan dengan adanya kita (da’i) di tengah mereka. Da’i, tidak semuanya mampu menunjukkan prestasinya di hadapan publik. Secara kualitas ibadah vertikal (hablumminallah), dia mungkin mendapat grade mendekati sempurna. Akan tetapi, saat dihadapkan dengan masyarakat (hablumminannas), sang da’i pun mendadak ‘melempem’.
Dia kurang dapat srawung (bergabung) dengan tetangga, mungkin dari segi keramahan dinilai kurang oleh masyarakat; kurang rapi dalam manajemen kehidupannya; hingga pada taraf lemahnya intelektualitas dan ekonomi sang da’i. Ya, kita semua menyadari bahwa da’i bukan malaikat. Akan tetapi, hal ini sangat berpengaruh terhadap citra da’i di hadapan publik. Bagaimana bisa da’i dipercaya untuk mengurus urusan umat manakala urusan diri pribadinya pun berantakan.
Kedua, bait kalimat di atas menuntun kita untuk memohon perlindungan dari orang tidak bertaqwa yang lemah dan tidak berdaya. Jika dibandingkan dengan aspek pertama, maka aspek kedua ini jauh lebih parah. Ibarat kata, sudah lemah, tidak berdaya, ditambah lagi tidak ada ketakwaan di dalamnya. Jika diumpamakan dengan kacang, maka kualitas orang ini adalah kacang yang kosong tak berisi, ditambah lagi kulitnya kusam dan tidak menarik. Sedikit pun tidak ada alasan yang mampu membuat orang lain mau untuk melirik ke arah orang tersebut.
Lemah daya dan lemah takwa ini menjadi masalah yang serius jika dihinggapi oleh sebagian besar orang. Tatanan masyarakat yang akan lahir adalah masyarakat yang jauh dari nilai peradaban islami yang didambakan.
Aspek ketiga yakni permohonan perlindungan terhadap orang jahat yang perkasa dan tangguh. Pada masa sekarang ini sangat banyak orang yang memiliki kekuasaan tinggi atas kehidupan dunia. Mereka menguasai sebagian besar perekonomian dunia, memiliki kuasa penuh terhadap lalu lintas media, pertahanan dan keamanan, hingga menjadi aktor utama jalannya hukum di negara. Mereka kuat, sangat kuat. Namun kekuatan yang mereka miliki tiada digunakan untuk kemanfaatan orang banyak. Mereka memperkaya diri dengan memperbudak banyak orang. Mereka memainkan seenaknya hukum dengan uang yang mereka punya, pun mereka mengatur arus media agar sesuai dengan kepentingan mereka.
Sekali lagi, mereka kuat, bahkan sangat kuat. Namun tidak ada bargaining position mereka di hadapan Allah. Ibarat mutiara, mereka baik pada polesan luarnya saja. Di dalam tubuh mereka kosong tak berisi. Mereka menjadi trouble-maker di setiap lingkungan di mana mereka berada.
Orang bertaqwa yang lemah, orang tidak bertaqwa yang lemah, maupun orang jahat yang kuat, ketiganya adalah cerminan ketidakseimbangan dalam kehidupan manusia. Allah telah memberikan garis merah yang jelas bagi kita hamba-Nya tentang bagaimana menjalani kehidupan sebagai seorang insan. Melalui Rasulullah, Allah memberikan sesempurnanya teladan dan pengajaran bagi manusia seluruhnya untuk menjadi manusia seutuhnya. Bagaimana Rasulullah tawazun dalam menjalankan hidupnya. Beliau adalah pemimpin yang terbaik; disegani lawan dicintai kawan, beliau pula seorang suami handal, ayah terbaik, kawan paling setia, dan guru paling mempesona.
Prinsip seorang muslim, bahwa mereka yang terbaik adalah mereka yang bermanfaat sebanyak-banyaknya bagi orang lain, bukan mereka yang memiliki banyak hal pada dirinya sendiri. Bait kalimat di atas merupakan penghayatan dalam dari seorang lelaki tangguh, cerdas nan berbudi, Umar bin Khattab. Nampak jelas tersirat bahwa misi sesungguhnya yang Islam ingin capai adalah melahirkan orang-orang baik yang kuat dan orang-orang kuat yang baik. Dan itu semua mustahil tanpa usaha dari setiap insan sebagai pilar kehidupan.
Mau jadi seperti apa kita??

1/07/2012 | Posted in , , | Read More »

Temu Jiwa Sentuh Fisik

anismatta.com-Shalatnya panjang dan khusuk. Keluh dan resah mengalir dalam doa-doa. Hasrat dan rindu merangkak bersama malam yang kian kelam. Usai shalat perempuan itu akhirnya rebah di pembaringan. Cemasnya belum lunas. Lama sudah suaminya pergi. Untuk jihad, memang. Tapi cinta tetaplah cinta. Walaupun jihad, perpisahan selalu membakar jiwa dengan rindu. Maka ia pun rebah dengan doa-doa; “Ya Allah, yang memperjalankan unta-unta, menurunkan kitab-kitab, memberi para pemohon, aku memohon pada-Mu agar Engkau mengembalikan suamiku yang telah pergi lama, agar dengan itu Engkau lepaskan resahku. Engkau gembirakan mataku. Ya Allah, tetapkanlah hukum-Mu di antara aku dan khalifah Abdul Malik bin Marwan yang telah memisahkan kami”.
Untungnya malam itu Khalifah Abdul Malik bin Marwan memang sedang menyamar di tengah pemukiman warga. Tujuannya, ya, itu tadi; mencari tahu opini warga soal pengiriman mujahidin ke medan jihad, khususnya istri-istri mereka. Dan suara perempuanlah itulah yang ia dengar.
Ini tabiat yang membedakan cinta jiwa dari cinta misi; pertemuan jiwa dalam cinta jiwa hanya akan menjadi semacam penyakit jika tidak berujung dengan sentuhan fisik. Disini rumus bahwa cinta tidak harus memiliki tidak berlaku.
Cinta jiwa bukan sekedar kecenderungan spritiual seperti yang ada dalam cinta misi. Cinta jiwa mengandung kadar sahwat yang besar. Dari situ akar tuntutan sentuhan fisik berasal. Mereka menyebutnya passionate love. Tanpa membawa semua penyakit. Sebagaimana hanya akan berujung kegilaan. Seperti yang dialami Qais dan Laila.
Ini mengapa kita diperintahkan mengasihi para pecinta; supaya mereka terhindar dari cinta yang seharusnya menjadi energi, lantas berubah jadi sumber penyakit. Maka sentuhan fisik dalam semua bentuknya adalah obat paling mujarab bagi rindu yang tak pernah selesai. Ini juga penjelasan mengapa hubungan badan antara suami istri merupakan ibadah besar, tradisi kenabian dan kegemaran orang shalih. Sebab, kata Ibnu Qayyim dan Imam Ghazali, ia mewariskan kesehatan dan jiwa raga, mencerahkan pikiran, meremajakan perasaan, menghilangkan pikiran dan perasaan buruk, membuat kita lebih awet muda dan memperkuat hubungan cinta kasih. Makna sakinah dan mawaddah adalah ketenangan jiwa yang tercipta setelah gelora hasrat terpenuhi,
Makna itu dapat dipahami Abdul Malik bin Marwan. Maka ia pun bertanya, “Berapa lama wanita bisa bertahan sabar?” “Enam bulan” jawab mereka. Kisah itu sebenarnya mengikuti pada temuan yang sama dimasa Umar bin Khattab. Dan di kedua kisah itu, kedua perempuan itu sama-sama melantunkan syair rindu dan hasrat, dan Abdul Malik bin Marwan mendengar bait ini;
air mata mengalir bersama larut malam
sedih mengiris hati dan merampas tidur
bergulat aku lawan malam
terawangi bintang hasrat rindu mendera-dera
melukai jiwa
Memang hanya puisi tempat jiwanya berlari. Melepas hasrat yang tak mau dilepas. Sebab rindu tetap saja rindu. Puisi tak akan pernah sanggup menyelesaikannya. Sebab memang begitulah hukumnya; hanya sentuhan fisik yang bisa mengobati hasrat jiwa.

1/06/2012 | Posted in , , | Read More »

Ketika Sabar Harus tak Terbatas

Di usia yang telah melewati angka 20 atau bahkan lebih dari itu, tak sedikit yang mengalami goncangan-goncangan hati bagi para jomblo (baca: single). Usia yang terbilang rawan menurut saya, dimana pada masa itu gejala ingin di cintai dan di sayangi sangatlah besar. Belum lagi melihat keadaan sekitar yang sangat membuat hati miris karena masih sendiri. Ya, fenomena pacaran.
Bersyukur bagi mereka yang telah Allah pertemukan dengan pendamping hidupnya tanpa harus berjuang untuk melawan perasaan hati yang tak menentu menahan gejolak nafsu. Namun lain hal untuk mereka yang memang belum di takdirkan untuk segera menikah.
Tapi yakinlah, bahwasanya Allah akan memberikan sesuatu yang kita butuhkan namun bukan yang kita inginkan. Jika keyakinan telah terpatri, Insya ALLAH hati akan merasa nyaman dengan segala keputusanNYA. Sebagai orang yang telah meyakini janji Tuhannya, hendaknya setelah itu jangan merusak keyakinan tersebut dengan perilaku yang dapat merubah keputusan ALLAH. Ketika telah yakin, hendaknya tak usah berlebihan dalam mencari pasangan misalnya dengan mengikuti pergaulan zaman sekarang, misalnya pacaran. Jika itu terjadi, apa gunanya keyakinan yang telah terbentuk di awal namun ternodai dengan nafsu dan kesabaran yang terbatas.
Sederet janji ALLAH untuk mereka yang bersabar, balasannya adalah surga. Apalagi untuk menahan hawa nafsu, sebanding dengan pahala jihad. Karena jihad terbesar adalah menahan hawa nafsu. Ketika kesabaran menjadi terbatas dan hati telah yakin pada ketetapanNYA, maka menikah bisa menjadi solusinya. Meskipun secara kasat mata, kemampuan belum memadai namun janji ALLAH untuk memberikan kemudahan bagi seorang muslim yang melakukan kebaikan hendaknya tak perlu di ragukan. Namun jika telah maksimal berusaha dan belum menampakkan hasil, baiknya sabar harus tetap tak terbatas. ALLAH akan selalu mendengar doa hambaNYA. Bila bukan sekarang, mungkin belum saatnya, karena ALLAH Maha Tahu apa yang terbaik untuk hambaNYA. Jika hati terkadang rapuh atau merasa putus asa. Ingatlah bahwa ALLAH tak pernah ingkar janji, mungkin ada yang salah dengan diri kita dan selayaknya kita selalu  berprasangka baik kepada ALLAH. Jangan pernah berhenti berusaha dan berdoa. Karena ALLAH akan selalu menggenggam doa dan mimpi para hambaNYA selama hambaNYA yakin dan mau berusaha mewujudkannya.
Ketika ALLAH belum mengabulkan doa hambaNYA untuk bersanding dengan pasangan hidupnya. Hendaknya sikap istiqamah terus dimaksimalkan. Tetap menahan hawa nafsu. Karena bisa jadi saat penantian itulah kita benar-benar di uji seberapa pantasnya kita mendapatkan seseorang yang cocok untuk kita. Bukankah ALLAH telah berjanji, bahwa pria yang baik adalah untuk wanita yang baik dan sebaliknya. Tidak mudah memang menahan cobaan di usia yang rentan  akan gejolak hati, namun jika kita bisa melewatinya dengan baik maka ALLAH akan memberikan balasan yang jauh lebih baik pula.
Karena pada dasarnya ALLAH teramat sayang dengan kita, tak membiarkan kita jatuh ke dalam jurang dosa. Walaupun kadangkala kita sendiri yang menceburkan diri dengan sengaja ke jurang tersebut. ALLAH akan menolong kita, jika kita ingin di tolong dan ALLAH akan menjaga kita, jika kita ingin di jaga. Jangan bermain dengan api jika tak ingin terbakar. Cukup ALLAH sebagai penghibur hati di saat hati kita sedang sedih.
Allahua’lam.

1/06/2012 | Posted in , , | Read More »

Sinergi Gerakan Islam

al-intima.com-Dunia Islam kini menyaksikan lahirnya berbagai harakah, tandzim, jama’ah dan firqah Islamiyah yang beraneka ragam. Terdapat bermacam-macam madrasah pemikiran, yang masing-masing memiliki manhaj tersendiri dalam berkhidmat dan berjuang menegakkan Islam di muka bumi, sesuai dengan penentuan sasaran, prioritas dan tahapannya.


Yusuf Qaradawi dalam bukunya Fiqhul Ikhtilaf menyatakan bahwa tidaklah menjadi masalah adanya beberapa kelompok dan jama’ah yang berjuang untuk menegakkan Islam, apabila hal itu merupakan ta’addudu tanawwu’ (perbedaan yang bersifat variatif) bukan ta’addudu ta’arudh (perbedaan yang bersifat kontradiktif). Syarat lainnya, antar semua pihak ada hubungan kerja dan koordinasi. Sehingga saling menyempurnakan dan menguatkan. Dalam menghadapi masalah-masalah asasi dan keprihatinan bersama harus mencerminkan satu barisan, laksana bangunan yang kokoh.

Tetapi pada kenyataannya—seperti diungkapkan Fathi Yakan dalam Aids Haraki—ta’addudiyah (berbilangnya harakah, tandzim, jama’ah dan firqah Islamiyah) yang ada kini tidak melahirkan kecuali semakin memuncaknya permusuhan. Ia menghembuskan nafsu hasad dan dengki kepada sesama, yang pada akhirnya mengakibatkan saling bertengkar dan saling intai kelemahan, yang seharusnya saling memahami dan saling menutupi kesalahan.

Realita yang diungkapkan  Fathi Yakan diamini Anis Matta, menurutnya saat ini, antar anggota harakah kerap terjadi pergesekan, baik langsung maupun tidak. Yang langsung—misalnya—tampak dalam persaingan antar kelompok harakah di kampus, sekolah, masjid, dan berbagai instansi lainnya yang sudah tersentuh dakwah, untuk saling menonjolkan diri dan mengambil peran yang lebih dominan.

Sementara yang tidak langsung adalah melalui bias pencitraan tidak proporsional tentang harakah lain yang dilakukan elit satu harakah terhadap pengikutnya. Yang satu sering membid’ahkan yang lain, yang lain menuduh antek Yahudi, yang satu lagi menuduh terlalu keras, sementara yang lain lagi menuding terlampau toleran.

Proses itu, secara bawah sadar, akan menciptakan identifikasi picik bahwa kita benar dan mereka salah, dan pada gilirannya—secara bawah sadar pula—akan menimbulkan kesadaran naïf bahwa mereka adalah lawan kita.

Para aktivis dakwah hendaknya mewaspadai fenomena ini. Jangan sampai ekses negative ta’aduddiyah tumbuh subur tak terkendali sehingga memungkinkan musuh-musuh Islam memanfaatkannya untuk menghancurkan harakah Islam itu sendiri. Sudah saatnya para aktivis dakwah di berbagai harakah, tandzim, jama’ah dan firqah Islamiyah saling bersinergi. Berupaya mendekatkan persepsi, menyatukan hati, membersihkan diri dari ta’asshub (fanatisme) serta membina suasana penuh ukhuwah, kerjasama dan saling memahami.

Mengapa harus bersinergi?

Dalil dari Al-Qur’an
Taujih Rabbani dalam Al-Qur’an dengan jelas dan tegas menekankan kewajiban bersinergi. Allah azza wa jalla menyeru orang-orang beriman agar memelihara persatuan dan kesatuan. Firman-Nya:

Berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah bercerai berai, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.(QS. Ali Imran, 3: 103)

“Janganlah kalian seperti orang-orang yang berpecah belah dan bertikai setelah datang sejumlah petunjuk kepada mereka.” (QS. Ali Imran, 3: 105)

Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. (QS. Al-Hujurat, 49: 10)

Bahkan lebih jauh, Al-Qur’an menegaskan bahwa berbantah-bantahan akan menyebabkan kegagalan dan hilangnya kekuatan:

Taatlah kepada Allah dan rasul-Nya, janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gagal dan hilang kekuatan. Bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al-Anfal, 8: 46)

Tanpa penafsiran yang ngejlimet ayat-ayat di atas dapat kita fahami dengan terang, bahwa Allah SWT menyeru setiap kita untuk selalu bersatu padu.

Dalil dari Sunnah
Seperti halnya Al-Qur’an, sunnah nabawiyah pun menegaskan tentang pentingnya bersinergi; saling mendukung dan bersatu padu. Rasulullah SAW bersabda,

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا وَشَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ

“Orang mukmin terhadap orang mukmin yang lain bagaikan bangunan yang sebagiannya menyangga sebagian yang lain.” (HR Bukhari dan Muslim)

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ
“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain, ia tidak meremehkannya, tidak menghinakannya, dan tidak menyerahkannya (kepada musuh).” (HR Muslim)

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan kaum Muslimin dalam cinta, kekompakan, dan kasih sayang bagaikan satu tubuh, jika salah satu anggota tubuhnya mengeluh sakit, maka seluruh anggota tubuh juga ikut menjaga dan berjaga.” (HR Bukhari)

Dalil dari realita
Realita kompleksitas dan beratnya problematika dakwah kontemporer juga menjadi dalil yang kuat guna mendorong setiap kita mau bersinergi. Abu Ridho menandaskan bahwa krisis yang tengah melanda umat Islam saat ini tidak lagi terkonsentrasi pada aspek-aspek tertentu dalam kehidupan umat, melainkan menyentuh keseluruhannya. Hampir dalam semua segi kaum muslimin mengalami kemunduran.

Hasan Al-Banna mengungkapkan bahwa secara politik kaum muslimin terjajah oleh musuh-musuhnya, sementara rakyatnya terpecah belah dalam intrik-intrik kepartaian. Dalam bidang ekonomi system riba merajalela, perusahaan-perusahaan asing menguasai hampir seluruh sector ekonomi dan mengeksploitasi sumber daya alamnya. Dalam bidang pemikiran, berbagai isme telah merancukan ideology, aqidah, kesadaran, dan pola pikir putera-putera bangsanya.

Dalam bidang social, dekadensi moral dan hedonisme telah mencabut akar keluhuran budi pekerti dan rasa kemanusiaan yang mereka warisi dari pendahulu-pendahulu mereka. Sementara demam kebarat-baratan telah merubah gaya hidup dalam semua sisinya secara begitu cepat, secepat aliran bisa ular yang menjalar ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah, dan akhirnya mengeruhkan ketenangannya. Dalam bidang yang sama mereka dikuasai oleh undang-undang bumi (buatan manusia) yang belum pernah terbukti mampu menghentikan langkah-langkah congkak para kriminalis, mencegah kezhaliman, dan—di atas itu semua—takkan pernah sanggup mengungguli perundang-undangan langit yang telah diletakkan oleh Sang Maha Pencipta, Raja di raja dan Pemilik semua jiwa manusia.

Dalam bidang pendidikan, bangsa-bangsa muslim dililit oleh system pendidikan barat yang terbukti gagal membangun generasi penerus yang akan mengemban amanah kebangkitan di masa datang. Selanjutnya, dalam bidang kejiwaan ia telah dijangkiti oleh keputusasaan yang membinasakan, kemalasan dan apatisme, kepengecutan dan kerendahdirian, sikap tidak jantan, egoisme, dan kebakhilan, yang semua itu telah berhasil mengikis semangat berkorban dan menyeret umat Islam keluar dari barisan para mujahidin menuju barisan orang-orang yang lengah dan lalai.

Oleh karena itu, setiap kita harus sadar, bahwa upaya memajukan Islam dan umat Islam mustahil hanya diemban oleh satu harakah, tandzim, jama’ah atau firqah Islamiyah tertentu. Ia pun mustahil dilakukan hanya dengan satu bentuk pendekatan dakwah; apakah tabligh saja, taklim saja, tarbiyah (pendidikan) saja, tatsqif (penyebaran wawasan) saja, amal khidami (pelayanan) saja, iqtishadi (ekonomi) saja, siyasah (politik) saja, jihad saja, dlsb. Terlebih lagi, gerakan Islam saat ini menghadapi tantangan yang cukup berat. Realita dakwah gerakan Islam kontemporer sangat berbeda dengan realita dakwah gerakan Islam pertama di masa lalu yang dimotori oleh Rasulullah SAW,

  1. Dakwah Islam pertama merupakan suatu tatanan yang menghimpun seluruh kekuatan kaum muslimin, sedangkan gerakan Islam kontemporer hanya menghimpun sebagian dari mereka.
  2. Gerakan Islam pertama di masa lalu merupakan jama’atul muslimin, sedangkan gerakan Islam kontemporer hanyalah merupakan jama’ah minal muslimin. Inilah realitas yang menjadikan dakwah Islam pertama bergerak terpadu menghadapi jahiliyah, sedangkan gerakan Islam kontemporer berada dalam situasi yg sulit. Disamping dituntut untuk menghadapi gerakan jahiliyah kontemporer, ia juga dipaksa mengambil sebuah sikap yang sesungguhnya sulit, atas basis luas bangsa-bangsa muslim yang tidak tunduk padanya. Kondisi seperti ini banyak dimanfaatkan oleh tatanan-tatanan jahiliyah.

Langkah Menuju Sinergi
Mewujudkan sinergi antar gerakan Islam mungkin bukan perkara mudah, tapi bukan berarti tidak mungkin diwujudkan. Oleh karena itu setiap kita harus mulai mencoba melangkah melakukan upaya pendekatan menuju sinergi.

Langkah tersebut bisa kita mulai dengan upaya-upaya berikut:
  1. Memahami ikhtilaf
  2. Melakukan hiwar haraki untuk mendekatkan persepsi
  3. Bekerjasama dalam masalah yang disepakati

Memahami ikhtilaf
Yusuf Qaradawy memaparkan beberapa langkah menuju tercapainya saling pengertian antar gerakan Islam dalam menyikapi ikhtilaf yang terjadi di antara mereka.

Pertama, bahwa untuk masalah-masalah furu’ perbedaan pendapat adalah sebuah kemestian dan rahmat. Kemestian itu terjadi karena tabiat agama Islam memang memberi peluang terjadinya perbedaan pendapat. Dalam kitab al-Arbain, Imam An-Nawawi meriwayatkan hadits dari Daruquthni, “Sesungguhnya Allah SWT telah membuat ketentuan-ketentuan, janganlah kamu melanggarnya; telah mewajibkan sejumlah kebaikan, janganlah kamu abaikan; telah mengharamkan banyak hal, janganlah kamu melanggarnya; telah mendiamkan banyak masalah sebagai rahmat bagimu, bukan karena lupa, janganlah kamu mencarinya.” Meminjam istilah Qaradawi, ada ‘kawasan kosong syariat’ yang sengaja Allah ta’ala sediakan.

Kedua, dengan mengikuti manhaj pertengahan dan meninggalkan sikap berlebih-lebihan dalam beragama. Meruncingnya ikhtilaf terjadi karena satu atau kedua belah pihak mengambil sikap berlebihan dalam beragama. Sikap ghuluw (berlebih-lebihan) dalam pelaksanaan agama sering menyebabkan seseorang memandang rendah dan mencerca mereka yang tidak mengikutinya. Maka tak heran jika Rasulullah mencela sikap ini, “Jauhkan dari kamu sikap berlebih-lebihan dalam agama. Karena orang sebelum kamu hancur hanya sebab berlebih-lebihan dalam agama.” (HR. Ahmad, Nasa’i, Ibnu Majah, Al-Hakim, Ibnu Huzaimah dan Ibnu Hibban dari Ibnu Abbas).

Ketiga, mengutamakan muhkamat bukan mutasyabihat. Ayat muhkamat memberi kepastian, sedang ayat mutasyabihat tanpa ilmu yang mendalam akan membuat seseorang yang mengikutinya mempertentangkan ayat yang satu dengan lainnya. Dari Abdullah bin Amr ra, ia berkata, “Rasulullah saw pernah keluar mendatangi dan mengecam serta mengingkari para sahabat yang sedang berbantah-bantahan tentang masalah taqdir.”

Keempat, tidak memastikan dan tidak menolak dalam masalah-masalah ijtihadiyah. Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah pernah ditanya tentang orang yang mengikuti sebagian ulama dalam masalah ijtihadiyah, apakah ia harus dihindari atau diingkari? Beliau menjawab, “Segala puji milik Allah. Orang yang dalam masalah-masalah ijtihadiyah mengamalkan sebagian pendapat ulama, tidak boleh diingkari dan dihindari. Demikian pula orang yang mengamalkan salah satu dari dua pendapat, tidak boleh dikecam. Jika dalam suatu masalah terdapat dua pendapat, maka bagi orang yang telah nampak mana yang lebih kuat boleh beramal sesuai dengannya. Tapi jika tidak, ia boleh mengikuti sebagian ulama yang dapat dipercaya dalam menjelaskan mana yang lebih kuat (rajah) di antara dua pendapat.”

Kelima, menelaah perbedaan pendapat para ulama. Dengan penelaahan yang jernih akan Nampak dalil-dalil yang melandasi perbedaan itu. Kemudian akan diketahui bahwa lautan syariah itu amat dalam dan luas. Akan Nampak kebenaran ungkapan, “Siapa yang tidak mengetahui ikhtilaf ulama, maka dia bukan ulama. Siapa yang tidak mengetahui ikhtilaf para fuqaha, maka hidungnya belum mencium bau fiqh.”

Melakukan hiwar haraki (dialog antar gerakan Islam) untuk mendekatkan persepsi
Anis Matta mengatakan bahwa frekuensi dialog bilateral antar harakah Islam perlu ditingkatkan, baik resmi maupun tidak resmi. Hiwar haraki yang sistematis, kalau toh tidak menghasilkan kesepakatan akhir, minimal akan memudahkan proses saling memahami dan mengerti antar sesama harakah Islam. Dalam konteks realitas kita, menurutnya, hiwar haraki itu membutuhkan dua hal: keluasan wawasan dan kematangan jiwa dalam menyikapi perbedaan. Pada beberapa kasus, aspek kematangan jiwa sering lebih dibutuhkan. Pasalnya, ada banyak konflik yang terjadi bukan disebabkan perbedaan sudut pandang, melainkan ketidakmatangan jiwa para peserta dialog.

Bekerjasama dalam masalah yang disepakati
Sungguh sangat elok jika para aktivis pergerakan Islam mampu duduk dalam satu majelis untuk merumuskan agenda bersama, menggarap masalah-masalah besar yang dihadapi ummat seraya mengesampingkan pertentangan-pertentangan kecil di antara mereka.

Marilah kita bekerjasama dalam menanamkan nilai-nilai keimanan dan Al-Qur’an pada jiwa generasi muda, dan membuang jauh-jauh perdebatan filsafat serta ilmu Kalam dan pengaruh ajaran-ajaran lain yang menimbulkan kebingungan dan pertentangan.

Marilah kita bekerjasama dalam membentengi generasi muda dari wabah atheisme dan segala ‘pengantar’nya berupa keraguan dan syubhat yang menggerogoti aqidah dan mengotori pemikiran.

Marilah kita bekerjasama dalam memperkuat keimanan umat kepada akhirat dan keyakinan akan balasan. Marilah kita usir segala syubhat yang berusaha mendangkalkan aqidah yang agung ini, atau segala bentuk syahwat yang menggoda manusia sehingga melalaikannya dari keyakinan ini.

Mengapa  kita tidak bekerjasama dalam meningkatkan pengajaran rukun-rukun amaliah Islam kepada kaum muslimin dan mencari cara yang terbaik untuk mendakwahkannya kepada mereka. Mengapa kita tidak bekerjasama dalam memperjelas, memperkokoh, dan menyampaikan pilar-pilar keimanan yang enam dalam akal dan hati kaum muslimin dengan bahasa yang sederhana sesuai dengan kesederhanaan Islam.

Marilah kita bekerjasama dalam mensosialisasikan makarimul akhlaq pada diri generasi muda dan tua. Marilah kita bekerjasama dalam mengusir segala kerendahan dan kenistaan yang bertentangan dengan nilai-nilai kebaikan.

Marilah kita bekerjasama dalam memelihara, mengaplikasikan, dan melindungi syariah dari permainan orang-orang yang ingin mengubah hal-hal yang qath’i (tegas dan gamblang) menjadi hal-hal yang zhanni (samar-samar); hal-hal yang muhkamat menjadi hal-hal yang mutasyabihat.

Marilah kita bekerjasama dalam mengajarkan ‘alfabeta’ Islam dan dasar-dasar aqidah, ibadah, akhlak dan adab yang tidak diperselisihkan oleh para ulama. Kita pun perlu bekerjasama menyampaikan dakwah Islam kepada semua penduduk bumi dengan bahasa yang mereka pahami, agar mereka dapat mengenal Islam secara benar dan tidak menjadi korban kejahatan musuh-musuh Islam yang merusak gambaran agama yang hanif ini.

Mengapa kita tidak bekerjasama menggarap pekerjaan yang sangat besar ini serta mempersiapkan para da’i  dan dana yang memadai?

Mengapa para pemikir dan aktivis Islam tidak melupakan perselisihan mereka mengenai masalah-masalah juz’iyyah ijtihadiyah, untuk kemudian menyatukan barisan dan front mereka dalam menghadapi kekuatan-kekuatan besar yang bersepakat menghancurkan mereka? Kenapa harus berputar pada masalah yang diperselisihkan yang menyebabkan kita lalai mengerjakan masalah lain yang kita sepakati yang jumlahnya jauh lebih banyak?

Maraji
Fiqhul Ikhtilaf, DR. Yusuf Qaradawi
Aids Haraki, Fathi Yakan
Dari Gerakan ke Negara, H.M. Anis Matta
Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin, Hasan Al-Banna
Waqfah Tarbawiyah, Lembaga Pengkajian Da’wah Islamiyah
Madah Tarbiyah, Lembaga Kajian Manhaj Tarbiyah Islamiyah

1/06/2012 | Posted in , , | Read More »

Blog Archive

Labels

Recently Commented

Recently Added